Tetapi, di era terkini, penggunaan timpalaja tidak lagi sekaku masa kemudian. Struktur yg dulu khusus mendeskripsikan tingkatan sosial tersebut kini lebih fleksibel.
Baik bangsawan maupun masyarakat awam sekarang mempunyai kebebasan buat memilih jumlah lapisan timpalaja sinkron dengan selera atau kebutuhan estetika mereka, tanpa perlu mengikuti batasan tradisional yg ketat.
BACA JUGA:Sejarah Saka Tatal di Masjid Agung Demak: Simbol Persatuan dan Perjuangan Para Wali
Melalui pencermatan di tempat tinggal norma Bugis, kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai serta struktur sosial rakyat Bugis terwujud pada bentuk arsitektur yg unik dan multifungsi.
Tempat tinggal ini bukan hanya menjadi rumah, namun jua menjadi sentra aktivitas komunal dan simbol status yg penting.
Kekayaan filosofis dan kepraktisan dalam setiap desain menunjukkan bahwa tempat tinggal norma Bugis ialah lebih berasal sekadar bangunan.
Tempat tinggal norma ini adalah aktualisasi diri hidup dari warisan budaya yg terus beradaptasi dengan zaman sembari mempertahankan esensi tradisinya.
BACA JUGA:Terungkap! 5 Peninggalan Kerajaan Kutai yang Jarang Diketahui, Nomor 3 Bikin Terkejut!
Pemahaman ini mengajak kita untuk menghargai lebih dalam lagi keunikan arsitektural yg terdapat dan menginspirasi buat melestarikan serta menyelidiki lebih lanjut kebudayaan lokal yang kaya.