Sanggul Korea Tradisional (Jjokjin Meori) Lambang Status Sosial di Era Joseon
Sanggul Korea Tradisional (Jjokjin Meori) Lambang Status Sosial di Era Joseon--
PAGARALAMPOS.COM - Pada masa Dinasti Joseon di Korea, tatanan rambut tidak hanya sekadar gaya, melainkan sebuah pernyataan status sosial yang terang-terangan.
Salah satu bentuk sanggul paling ikonik adalah Jjokjin Meori, sanggul yang dikenakan oleh wanita bangsawan dan perempuan kerajaan.
Bentuknya khas, terletak rendah di belakang kepala, dibentuk dengan hati-hati dan dipadukan dengan aksesori bernama binyeo.
Tidak sembarang wanita boleh memakainya—hanya yang berasal dari kelas tertentu yang berhak menyanggul rambut dengan gaya ini.
BACA JUGA:Rambut Putih dalam Kepercayaan Suku Indian Kebijaksanaan yang Disematkan secara Alamiah
Jjokjin Meori tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki nilai simbolis yang tinggi.
Ukuran, bahan, dan hiasan yang digunakan pada sanggul tersebut bisa menjadi kode yang terbaca oleh masyarakat tentang siapa pemakainya.
Misalnya, binyeo dari emas atau giok hanya boleh digunakan oleh kalangan atas, sementara rakyat biasa harus puas dengan kayu atau kuningan.
Dari kejauhan saja, seseorang bisa mengenali apakah wanita itu berasal dari istana, keluarga bangsawan, atau rakyat biasa.
BACA JUGA:Rambut dan Gender dalam Budaya Bugis Ketika Gaya Rambut Menjadi Penanda Lima Gender
Kehadiran Jjokjin Meori juga erat kaitannya dengan peran perempuan dalam sistem sosial yang hierarkis.
Perempuan yang menikah akan mulai menggunakan sanggul ini sebagai tanda perubahan statusnya.
Tak heran jika momen pertama kali mengenakan Jjokjin Meori menjadi semacam ritus kedewasaan, serupa dengan simbol transisi yang dihormati dalam banyak budaya.
Gaya rambut ini menjadi batas antara gadis dan perempuan dewasa, antara anggota keluarga dan istri dari seorang pejabat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
