Pemkot PGA

Benteng Jagaraga: Simbol Perlawanan Rakyat Bali dalam Perang Puputan Melawan Penjajahan Belanda (1848–1849)!

Benteng Jagaraga: Simbol Perlawanan Rakyat Bali dalam Perang Puputan Melawan Penjajahan Belanda (1848–1849)!

Benteng Jagaraga: Simbol Perlawanan Rakyat Bali dalam Perang Puputan Melawan Penjajahan Belanda (1848–1849)!-net:foto-

PAGARALAMPOS.COM - Benteng Jagaraga, terletak di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali, merupakan saksi bisu perjuangan rakyat Bali melawan penjajahan Belanda pada pertengahan abad ke-19.

Benteng ini menjadi pusat perlawanan dalam Perang Jagaraga (1848–1849), yang dipimpin oleh Patih Agung I Gusti Ketut Jelantik, seorang tokoh penting dalam sejarah perlawanan Bali.

Latar Belakang Perang Jagaraga

Pada masa itu, Belanda berusaha menghapuskan hak "tawan karang", sebuah hukum adat Bali yang memberikan hak kepada kerajaan untuk mengklaim kapal asing yang karam di perairan mereka.

BACA JUGA:Terungkap! Fakta-Fakta Menarik Tentang Sejarah Mataram Kuno yang Jarang Diketahui

BACA JUGA:Sejarah Suku Dani dan Ritual Potong Jari: Tradisi, Makna, dan Perubahannya dalam Kehidupan Masyarakat Papua!

Belanda menganggap hukum ini merugikan kepentingan dagang mereka dan bertentangan dengan hukum internasional. Ketegangan meningkat ketika Belanda menuntut Raja Buleleng untuk mengganti kerugian atas 

Pembangunan Benteng Jagaraga

Sebagai respons terhadap ancaman Belanda, I Gusti Ketut Jelantik memindahkan pusat pertahanan ke Desa Jagaraga dan membangun benteng dengan sistem pertahanan yang dikenal sebagai "Supit Urang".

Benteng ini dirancang dengan pertimbangan strategis dan spiritual, terletak dekat dengan Pura Dalem Jagaraga, yang melambangkan perlindungan rohani bagi para pejuang. 

BACA JUGA:Sejarah Benteng Speelwijk: Jejak Kolonialisme Belanda di Banten Lama dan Perjuangan Melawan Penjajahan!

BACA JUGA:Sejarah Taman Purbakala Pugung Raharjo: Jejak Megalitikum, Hindu-Buddha, dan Islam di Tanah Lampung!

Jalannya Perang Jagaraga

Perang Jagaraga dimulai pada 8 Juni 1848, ketika pasukan Belanda menyerang melalui Pelabuhan Sangsit dengan 22 kapal perang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait