Terukir di Batu! Prasasti Yupa Bongkar Misteri Kerajaan Kutai
Terukir di Batu! Prasasti Yupa Bongkar Misteri Kerajaan Kutai"--
PAGARALAMPOS.COM - Prasasti Yupa dan Bukti Sejarah Kutai: Suara Batu dari Masa Lalu.
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana bangsa Indonesia zaman dahulu meninggalkan jejak sejarahnya? Tidak ada video, tidak ada foto, bahkan belum ada tulisan dalam bahasa Indonesia seperti sekarang.
Namun, ada satu cara yang berhasil menembus waktu dan membawa pesan dari masa lampau melalui prasasti.
Dan salah satu prasasti paling penting dalam sejarah Indonesia adalah prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai.
BACA JUGA:Garut Menyimpan Segudang Sejarah: Kearifan Lokal dan Tradisi yang Tetap Terjaga di Era Modern
Yupa bukan sekadar batu bertuliskan aksara tua.
Ia adalah saksi bisu yang menuturkan kisah tentang kerajaan pertama yang pernah berdiri di Nusantara, yakni Kerajaan Kutai Martadipura. Prasasti ini bukan hanya menjadi kebanggaan Kalimantan Timur, tetapi juga menjadi tonggak awal catatan sejarah Indonesia.
Secara harfiah, yupa adalah tugu batu yang digunakan sebagai tiang untuk mengikat hewan kurban dalam upacara keagamaan.
Namun yang membuat yupa dari Kutai begitu istimewa adalah karena pada permukaannya terdapat tulisan dalam aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta—dua unsur budaya dari India yang menjadi bukti pengaruh Hindu di Nusantara sejak awal abad Masehi.
BACA JUGA:Yuk Intip! Menggali Sejarah Makna Sumpah Pemuda Landasan Persatuan Bangsa Indonesia
Terdapat tujuh buah yupa yang ditemukan di daerah Muara Kaman, Kalimantan Timur.
Masing-masing yupa bercerita tentang para raja dan kegiatan keagamaan yang dilakukan.
Dari yupa inilah kita mengenal nama-nama seperti Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarmantiga tokoh penting yang membentuk silsilah awal Kerajaan Kutai.
Dalam salah satu yupa, tertulis bahwa Raja Mulawarman adalah raja yang sangat dermawan.
BACA JUGA:Sejarah Menarik London Bridge, Dari Jembatan Kayu Romawi Hingga Ikon Modern!
Ia memberikan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana sebagai bentuk persembahan dan penghormatan kepada para dewa.
Angka tersebut bukan hanya mencerminkan kekayaan kerajaan, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya peran agama dalam sistem pemerintahan Kutai.
Selain itu, yupa juga menyebutkan bahwa Aswawarman dianggap sebagai “wamsakarta” atau pendiri keluarga kerajaan, meskipun yang benar-benar memerintah dan dikenal masyarakat adalah Mulawarman.
Kudungga, sang kakek, diduga adalah kepala suku atau pemimpin lokal sebelum proses Indianisasi masuk dan membentuk sistem kerajaan yang lebih terstruktur.
BACA JUGA:Jembatan Siti Nurbaya, Menguak Romantisme Sejarah di Jantung Kota Padang
Keberadaan yupa adalah bukti otentik dari lahirnya kerajaan pertama di Indonesia.
Tanpa yupa, mungkin kita hanya bisa menebak-nebak sejak kapan peradaban di Nusantara mengenal sistem kerajaan, agama Hindu, atau bahasa Sanskerta.
Yupa adalah jendela ke masa lalu, yang membuka wawasan kita tentang asal-usul peradaban di tanah air.
Menariknya, bahasa dan aksara yang digunakan pada prasasti ini tidak berasal dari Indonesia.
BACA JUGA:Yuk Mengenal Sejarah Danau Maninjau Sebuah Simbol Keindahan Alam dan Warisan Budaya
Ini membuktikan bahwa pada abad ke-4 Masehi, Nusantara sudah memiliki hubungan budaya dan mungkin juga perdagangan dengan India.
Ini membantah anggapan bahwa wilayah ini dulu adalah tempat yang tertinggal atau terisolasi.
Saat ini, prasasti-prasasti Yupa disimpan dan dijaga di Museum Mulawarman di Tenggarong.
Keberadaan yupa bukan hanya penting bagi masyarakat Kalimantan, tapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.
BACA JUGA:Dari Lagenda ke Wisata Perjalanan Panjang Danau Singkarak Dalam Sejarah Sumatera Barat
Ia adalah pengingat bahwa jauh sebelum bangsa ini merdeka, nenek moyang kita sudah memiliki sistem sosial, spiritual, dan budaya yang kompleks.
Bagi generasi muda, mempelajari Yupa bukan soal menghafal tahun atau nama raja.
Ini tentang memahami bahwa bangsa ini punya akar sejarah yang dalam, dan bahwa kita semua adalah bagian dari perjalanan panjang itu.
Prasasti Yupa adalah suara dari masa lalu yang masih berbicara hingga hari ini—kalau kita mau mendengarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
