Menelusuri Sejarah Sungai Ciliwung: Nadi Kehidupan dan Saksi Perjalanan Jakarta!
Menelusuri Sejarah Sungai Ciliwung: Nadi Kehidupan dan Saksi Perjalanan Jakarta!-net: foto-
PAGARALAMPOS.COM - Sungai Ciliwung, yang mengalir sejauh sekitar 119 kilometer dari hulu di kawasan Puncak, Bogor, hingga bermuara ke Teluk Jakarta, bukan hanya sekadar bentangan air yang membelah kota.
Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban di wilayah yang kini kita kenal sebagai Jakarta. Dalam setiap lekuk alirannya, tersimpan jejak-jejak sejarah yang membentuk wajah ibu kota dari masa ke masa.
Asal-Usul dan Nama Ciliwung
Nama "Ciliwung" berasal dari bahasa Sunda, yaitu "Ci" yang berarti air atau sungai, dan "Liwung" yang memiliki arti keruh atau berlumpur.
BACA JUGA:Menelusuri Misteri dan Sejarah Pulau Seram: Keindahan yang Tersembunyi!
Maka, secara harfiah, Ciliwung bisa diartikan sebagai "sungai yang keruh." Nama ini mencerminkan kondisi alami sungai yang mengalir melewati berbagai bentang lahan, dari pegunungan hingga dataran rendah, membawa serta endapan tanah dan lumpur.
Jejak Sejarah di Masa Kuno
Sejak zaman prasejarah, daerah aliran Sungai Ciliwung sudah menjadi tempat hunian manusia.
Penemuan arkeologis seperti kapak batu, gerabah, dan fosil manusia purba di sekitar hulu sungai membuktikan bahwa kawasan ini sudah lama dihuni.
Selain menyediakan air bersih, sungai juga menjadi jalur transportasi alami dan sumber makanan.
Pada abad ke-4 hingga ke-7 Masehi, daerah sekitar Ciliwung merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara, kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat.
Prasasti Tugu, salah satu prasasti peninggalan Tarumanagara, ditemukan di dekat aliran Ciliwung dan menyebutkan proyek penggalian saluran air yang dilakukan Raja Purnawarman.
Ini menunjukkan pentingnya sungai dalam sistem irigasi dan kehidupan masyarakat saat itu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
