Menelusuri Museum Fatahillah: Jejak Sejarah Jakarta Tempo Doeloe!
Menelusuri Museum Fatahillah: Jejak Sejarah Jakarta Tempo Doeloe!-foto: net-
PAGARALAMPOS.COM - Museum Fatahillah artinya destinasi wisata utama sekaligus salah satu ikon Kota Jakarta.
Fatahillah bukan hanya sebuah museum, akan tetapi pula menjadi satu kesatuan menggunakan tempat pada sekitarnya, yg dikenal menjadi Kota Tua.
Wisatawan akan menerima banyak wawasan yg menarik serta pengalaman yg seru.
Sejarah Museum Fatahillah
BACA JUGA:Menilik Sejarah Batik Solo: Dengan Berbagai Varian Motif yang Menarik!
Dikutip asal page Jakarta Tourism, nama resmi Museum Fatahillah merupakan Museum Sejarah Jakarta. Bangunan ini sebelumnya artinya markas administrasi Perusahaan Hindia Timur, yg lalu diambil alih oleh pemerintah Belanda.
Awal pembangunannya adalah atas perintah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1626 buat menggantikan balai kota usang yg harus dibongkar di ketika perlawanan Sultan Agung.
Balai kota lama dibangun pada tahun 1620 di sebelah timur Kali besar. Sedangkan balai kota baru berada pada Nieuwe Markt yg kini sebagai Taman Fatahillah.
Fatahillah ialah nama pendiri Kota Jayakarta yg merupakan cikal bakal Jakarta. karena konstruksi bangunan tersebut mengalami penurunan, Gubernur Jenderal Joan van Hoorn memerintahkan aneka macam renovasi yg hasilnya mirip Istana Dam pada Amsterdam di tahun 1707.
BACA JUGA:Sejarah Desa Adat Ratenggaro: Tradisi dan Budaya Warga yang Dilakukan!
Pada lepas 10 Juli 1710, gedung tersebut diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Gedung ini berfungsi menjadi balai kota (stadhuis) dan dewan pengadilan (raad van justitie).
Gedung ini sempat berganti-ganti fungsi, antara lain:
- Tahun 1925-1942: tempat kerja Provinsi Jawa Barat.
- Tahun 1942-1945: markas Dai Nippon.
- Tahun 1945-1963: tempat kerja Gubernur Jawa Barat.
- Tahun 1964: Markas Tentara Nasional Indonesia Kodim 0503 Jakarta Barat.
- Tahun 1972: diserahkan pada pemerintah RI.
Lepas 30 Maret 1974: diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta sang Gubernur Ali Sadikin dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.
BACA JUGA:Candi Cangkuang: Jejak Perkampungan Adat Kampung Pulo, Sejarah Hindu di Tengah Tanah Sunda!
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
