Pemkot PGA

Menelusuri Sejarah Makam Sultan Maulana Hasanuddin: Jejak Islam dan Kejayaan Kesultanan Banten di Banten Lama

Menelusuri Sejarah Makam Sultan Maulana Hasanuddin: Jejak Islam dan Kejayaan Kesultanan Banten di Banten Lama

Menelusuri Sejarah Makam Sultan Maulana Hasanuddin: Jejak Islam dan Kejayaan Kesultanan Banten di Banten Lama-net:foto-

PAGARALAMPOS.COM - Makam Sultan Maulana Hasanuddin merupakan salah satu situs bersejarah penting di Provinsi Banten, Indonesia.

Terletak di kawasan Banten Lama, tepatnya di Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, makam ini menjadi simbol kejayaan Kesultanan Banten sekaligus tempat ziarah yang ramai dikunjungi masyarakat.

Keberadaannya bukan hanya menyimpan nilai religius, tetapi juga mencerminkan warisan budaya dan sejarah Islam di tanah Jawa bagian barat.

Sultan Pertama Kesultanan Banten

BACA JUGA:Mengulik Sejarah Suku Nyama Selam: Penjaga Tradisi Maritim di Indonesia Timur!

Sultan Maulana Hasanuddin merupakan sultan pertama dari Kesultanan Banten yang memerintah pada abad ke-16.

Ia adalah putra dari Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.

Hasanuddin lahir dari pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Nyai Kawunganten, seorang perempuan keturunan bangsawan lokal Banten. Sebagai pemimpin, Maulana Hasanuddin dikenal bijaksana dan tegas.

Di bawah kepemimpinannya, Banten berkembang menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam yang maju, terutama karena letaknya yang strategis di pesisir barat Pulau Jawa dan berdekatan dengan jalur pelayaran internasional.

BACA JUGA:Sejarah Benteng Ujung Pandang: Dari Benteng Kerajaan Gowa hingga Fort Rotterdam, Jejak Kolonial dan Warisan!

Pembangunan Makam dan Kompleksnya

Setelah wafatnya pada tahun 1570, Sultan Maulana Hasanuddin dimakamkan di Banten Lama, tidak jauh dari Masjid Agung Banten yang ia dirikan semasa hidup.

Makamnya terletak di dalam kompleks pemakaman kerajaan yang dikelilingi oleh pagar batu dan bangunan kuno bergaya arsitektur Islam klasik.

Kompleks makam ini dibangun dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait