Pemkot PGA

Menelusuri Sejarah Candi Bumi Ayu: Jejak Peradaban Hindu di Sumatera Selatan!

Menelusuri Sejarah Candi Bumi Ayu: Jejak Peradaban Hindu di Sumatera Selatan!

Menelusuri Sejarah Candi Bumi Ayu: Jejak Peradaban Hindu di Sumatera Selatan!-net:foto-

PAGARALAMPOS.COM - Candi Bumi Ayu merupakan salah satu peninggalan arkeologis penting di Indonesia yang mencerminkan kejayaan peradaban Hindu di wilayah Sumatera Selatan.

Terletak di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

kompleks candi ini menjadi satu-satunya situs percandian Hindu di bagian selatan Sumatera dan memiliki nilai historis yang signifikan dalam perjalanan penyebaran agama Hindu di kawasan ini.

Candi ini pertama kali diketahui keberadaannya pada akhir abad ke-19 oleh para arkeolog Belanda di masa kolonial.

BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Legenda Si Pitung: Pahlawan Rakyat dari Betawi!

Namun, penelitian secara mendalam baru dilakukan sekitar pertengahan abad ke-20 oleh tim dari Balai Arkeologi.

Berdasarkan kajian, pembangunan Candi Bumi Ayu diperkirakan berlangsung antara abad ke-8 hingga ke-13 Masehi, menandakan bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat spiritual dan kebudayaan Hindu, khususnya yang berkaitan dengan aliran Siwaisme.

Dulunya, kompleks ini terdiri atas 13 bangunan candi, namun hanya empat yang telah berhasil dipugar hingga saat ini, yaitu Candi 1, 2, 3, dan 8.

Sisa bangunannya masih berupa puing-puing atau gundukan tanah yang belum diekskavasi sepenuhnya.

BACA JUGA:Memahami Kisah Sejarah Monumen Jalesveva Jayamahe: Simbol Kejayaan Maritim Indonesia

Dari segi arsitektur, candi-candi ini memiliki kemiripan dengan bangunan candi Hindu di Pulau Jawa, terutama dalam penggunaan batu bata merah dan keberadaan arca-arca Dewa Siwa, Nandi, serta simbol lingga dan yoni.

Diperkirakan, fungsi utama dari Candi Bumi Ayu adalah sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan spiritual masyarakat Hindu di masa lampau.

Temuan berbagai artefak seperti patung dewa-dewa Hindu, prasasti, dan struktur altar memperkuat dugaan tersebut.

Lingga dan yoni yang ditemukan juga menjadi bukti bahwa masyarakat pada masa itu menganut ajaran Siwaisme, yakni cabang Hindu yang memuja Dewa Siwa sebagai sosok utama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait