Tobong Gamping Jadi Ikon Gunungkidul? Sejarahnya Mengejutkan dan Bikin Heboh!

Tobong Gamping Jadi Ikon Gunungkidul? Sejarahnya Mengejutkan dan Bikin Heboh!

Mengungkap Jejak Sejarah: Ekskavasi Kastil Tobong Gamping di Gunungkidul-Foto: net -

PAGARALAMPOS.COM - Tobong gamping, atau tungku pembakaran kapur, memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Pada era 1980-an hingga 1990-an, industri ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal, dengan puluhan tobong beroperasi di berbagai desa, seperti di Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Wonosari.

Proses produksinya melibatkan pembakaran batu kapur dalam tungku yang disebut "tobong," menggunakan bahan bakar kayu atau serbuk gergaji.

Hasilnya, kapur digunakan sebagai bahan campuran semen dalam konstruksi bangunan dan untuk menetralkan limbah tambak udang. 

BACA JUGA:Mahkamah Konstitusi Perintahkan 21 Daerah Wajib Gelar PSU dalam PHPU Pilkada 2024!

Namun, seiring berjalannya waktu, industri tobong gamping mengalami penurunan drastis.

Faktor seperti menurunnya permintaan, persaingan dengan teknologi modern, dan kesadaran akan dampak lingkungan dari penambangan batu kapur menyebabkan banyak pengusaha gulung tikar.

Saat ini, hanya segelintir pengusaha yang masih bertahan, seperti Wardoyo (62) di Pedukuhan Kajar II, Kalurahan Gari, Wonosari, yang mengoperasikan tiga tobong aktif. 

Pada tahun 2022, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul merencanakan penggantian Monumen Patung Pengendang di Bundaran Siyono dengan Monumen Tobong Gamping.

BACA JUGA:Berani Menjadi Pendaki Sejati? Jelajahi 5 Lokasi Pendakian Menantang di Gunung Kidul!

Langkah ini menuai kontroversi. Sebagian masyarakat dan anggota legislatif menolak rencana tersebut, menganggap tobong gamping sebagai simbol kerusakan lingkungan akibat penambangan batu kapur yang masif.

Mereka berpendapat bahwa menjadikan tobong gamping sebagai ikon dapat melegitimasi praktik penambangan yang merusak ekosistem karst di wilayah tersebut. 

Di sisi lain, pemerintah daerah berargumen bahwa monumen tersebut dimaksudkan untuk menghormati sejarah dan kerja keras masyarakat dalam industri kapur, yang pernah menjadi sumber penghidupan utama.

BACA JUGA:Taukah Kamu? Inilah Bukti Nyata Penyebaran Agama Islam Melalui Masjib Sunan Kalijaga di Gunung Kidul

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: