Imbas Pengetatan Impor, Pabrik Sepatu Bata Tutup, Industri Alas Kaki di Indonesia Menghadapi Tantangan Berat

Imbas Pengetatan Impor, Pabrik Sepatu Bata Tutup, Industri Alas Kaki di Indonesia Menghadapi Tantangan Berat

Imbas Pengetatan Impor, Pabrik Sepatu Bata Tutup, Industri Alas Kaki di Indonesia Menghadapi Tantangan Berat--

PAGARALAMPOS.COM - Industri alas kaki di Indonesia menghadapi tantangan serius setelah Pabrik Sepatu Bata resmi menutup pintunya.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyampaikan kekhawatiran atas situasi ini, sementara direktur eksekutif Firman Bakrie menyoroti dampak pengetatan impor yang semakin mempersulit industri.

Menurut Firman, industri alas kaki telah menghadapi tekanan yang signifikan sejak awal pandemi.

Penurunan daya beli masyarakat, terutama karena inflasi, telah berdampak negatif pada kesejahteraan bisnis.

BACA JUGA:Film Korea Carter Jalani Misi Tanpa Tahu Identitas Sendiri, Yuk intip Sinopsisnya Disini

Hal ini menuntut industri untuk beradaptasi dan melakukan langkah-langkah efisiensi agar tetap kompetitif di pasar yang sulit.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi industri adalah pengetatan impor bahan baku. Sebagian besar bahan baku untuk industri alas kaki masih bergantung pada impor tekstil.

Namun, aturan yang ketat mengenai impor telah membuat birokrasi menjadi lebih rumit dan mahal.

Firman berharap agar pemerintah memberikan kemudahan khusus bagi industri manufaktur, terutama yang padat modal, untuk mengatasi tantangan ini.

BACA JUGA:Berikut Sinopsis Film Keep Breathing, Perjuangan Liv Untuk Bertahan Hidup Di Hutan Belantara

Terkait dengan penutupan pabrik Sepatu Bata, Firman menyatakan bahwa meskipun belum ada penjelasan resmi, bisnis perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1931 masih berlanjut.

Meskipun pabrik di Purwakarta ditutup, Bata masih mempertahankan skema bisnisnya melalui pemesanan kepada pabrik lokal lain di Indonesia.

Namun, penutupan pabrik tersebut mengundang spekulasi tentang alasan di baliknya.

Firman menyebutkan bahwa penurunan pesanan dan ketidakseimbangan antara biaya produksi dan pemasukan kemungkinan menjadi faktor utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: