Lanjutkan Tradisi Nenek Moyang, Warga Sulawesi Selatan Punya Tradisi Naik Haji di Puncak Gunung Bawakaraeng

Lanjutkan Tradisi Nenek Moyang, Warga Sulawesi Selatan Punya Tradisi Naik Haji di Puncak Gunung Bawakaraeng

Lanjutkan Tradisi Nenek Moyang, Warga Sulawesi Selatan Punya Tradisi Naik Haji di Puncak Gunung Bawakaraeng-foto: Net-

PAGARALAMPOS.COM - Gunung Bawakaraeng dengan keindahannya yang mempesona telah lama menjadi destinasi menarik bagi pecinta alam dan petualang.

Terletak di dataran tinggi Sulawesi Selatan, gunung ini tidak hanya mempesona dengan panorama alamnya yang mempesona, namun juga dikelilingi oleh banyak cerita mistis yang menghantui negeri ini.

Mulai dari hutan lebat yang menutupi lereng hingga legenda yang diturunkan secara turun temurun, Gunung Bawakaraeng menjadi salah satu tempat di Indonesia yang keindahan alam dan kearifan lokalnya patut untuk dijelajahi.

Pada artikel kali ini kami akan mengungkap  keindahan alam yang menawan serta kisah mistis di sekitar Gunung Bawakaraeng, mengajak Anda menjelajahi kekayaan budaya dan alam dataran tinggi Sulawesi yang menawan.

BACA JUGA:Pernah Kuasai Bengkulu, Ternyata Inu Kekuatan Militer Inggris di Fort Marlborough

Profil Gunung Bawakaraeng

Gunung Bawakaraeng merupakan salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Selatan dengan ketinggian 2.840 meter di atas permukaan laut.  Terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, gunung ini juga dikenal sebagai tempat terdingin di Sulawesi Selatan.

Meski sudah tidak aktif lagi sebagai gunung berapi, namun kawahnya masih terlihat sehingga menambah daya tarik alamnya.

Menurut Profesor Asri Jaya,  ahli geologi  Universitas Hasanuddin, Gunung Bawakaraeng terbentuk dari batuan vulkanik, khususnya batuan beku yang terbentuk akibat pendinginan magma sehingga membentuk lava atau bongkahan beku di permukaan bumi.

Pembentukan gunung ini terjadi sekitar 2 juta tahun yang lalu.

BACA JUGA:Satgas TPPO Selamatkan 2.710 Korban. Sebagian Besar Pekerja Migran

Arti Nama Gunung Bawakaraeng

Nama "Bawakaraeng" sendiri memiliki makna yang dalam. Secara harfiah, nama ini berarti "Mulut Tuhan" atau "Mulut Raja." 

Kata "Raja" di sini merujuk pada penguasa manusia, sesuai dengan kepercayaan orang Makassar kuno yang berbentuk dinamisme, yakni keberadaan Batara sebagai penentu alur kehidupan manusia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: