Aneh! Mengupas Sejarah Tradisi Pernikahan Sedarah Suku Polahi di Gorontalo

Aneh! Mengupas Sejarah Tradisi Pernikahan Sedarah Suku Polahi di Gorontalo

Aneh! Mengupas Sejarah Tradisi Pernikahan Sedarah Suku Polahi di Gorontalo--Net

PAGARALAMPOS.COM - Suku Polahi adalah sebuah kelompok etnis yang mendiami wilayah pesisir timur Pulau Papua. 

Meskipun tidak sepopuler beberapa suku besar di Papua, Suku Polahi memiliki warisan budaya yang kaya dan unik. 

Mereka dikenal sebagai ahli dalam seni perajin tradisional, terutama dalam membuat peralatan nelayan dan senjata tradisional. 

Selain itu, kehidupan sehari-hari mereka sangat terkait dengan laut, dengan mata pencaharian utama adalah berburu ikan dan menyelam untuk mencari hasil laut. 

BACA JUGA:Penemuam Logam Mulia Masih Berlanjut, Peneliti Terus Mengungkap Kebenaranya, Siapa Pemilik Kekayaan Alam Itu?

Saat suku Polahi menghadapi dampak pengaruh eksternal, kekuatan mereka dalam mempertahankan esensi tradisional memberikan inspirasi

Kehidupan di pedalaman hutan Gorontalo memungkinkan mereka untuk tetap terisolasi dari arus utama perubahan, namun dampak globalisasi dan interaksi dengan komunitas lain mulai memberikan pengaruh. 

Meskipun beberapa perubahan positif telah terjadi dalam hal kesejahteraan dan pendidikan, ada aspek-aspek dari tradisi mereka yang tetap menimbulkan pertanyaan dan perdebatan di kalangan masyarakat luas. 

Keseimbangan antara warisan budaya dan tuntutan perubahan adalah dinamika yang terus dihadapi oleh suku Polahi dalam perjalanan mereka menuju masa depan yang lebih baik.

BACA JUGA:Slebew! Suku Polahi Masih Menjalankan Tradisi Tanjar Dengan Saudara Sendiri, Apa Rasanya?

Meskipun pernikahan sedarah dianggap tabu di luar sana, hal ini merupakan hal yang lazim di suku Polahi.

Selain itu, poligami juga diterima di suku ini, dan para pria suku Polahi tidak keberatan untuk menikahi lebih dari satu wanita.

Sistem poligami yang unik ini seringkali berhubungan dengan pernikahan sedarah di suku Polahi, seperti menikahi dua saudara kandung sekaligus dan sebagainya.

Yang lebih mengejutkan, meskipun pernikahan sedarah sering kali dikaitkan dengan kelahiran anak-anak yang cacat, namun di suku Polahi tidak terdapat anak-anak cacat dari pernikahan sedarah tersebut. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: