Kepala BKKBN: Ada Korelasi Kuat Antara Angka TFR dengan Prevalensi Stunting di Nusa Tenggara Barat

Kepala BKKBN: Ada Korelasi Kuat Antara Angka TFR dengan Prevalensi Stunting di Nusa Tenggara Barat

--

JAKARTA, PAGARALAMPOS.COM - Ada korelasi kuat antara tingginya angka rata-rata seorang perempuan melahirkan anak atau Total Fertility Rate (TFR) dengan angka prevalensi stunting. Semakin tinggi angka TFR semakin tinggi angka prevalensi stunting. Demikian juga angka kematian bayi punya relasi yang kuat dengan tingkat prevalensi stunting.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.O.G. (K) dalam Roadshow Percepatan Penurunan Stunting dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Kabupaten dan Kota yang digelar Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, Selasa 28 Februari 2023 lalu.

Roadshow yang berlangsung secara daring dipimpin langsung Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P serta dimoderatori Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Drg. Agus Suprapto, M.Kes. 

Dari jajaran Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, hadir Wakil Gubernur yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting NTB Hj. Sitti Rohmi Djalillah. Sejumlah Bupati dan Walikota serta Wakil Bupati dan Wakil Walikota se-NTB juga hadir dalam roadshow daring tersebut.

BACA JUGA:Resmikan Groundbreaking PLTA Mentarang, Presiden RI Dukung Transformasi Ekonomi Indonesia

“Perlu saya sampaikan kepada Ibu Wagub, angka TFR di Nusa Tenggara Barat adalah 2,43. Angka TFR ini tinggi dibandingkan dengan TFR provinsi lain. Ada kecenderungan TFR tinggi maka prevalensi stunting juga tinggi. Demikian juga stunting ada related dengan angka kematian bayi. Di Nusa Tenggara Barat angka kematian bayi 24,64 per seribu. Ini adalah angka neonatus atau umur bayi kurang dari 28 hari. Sedangkan balita angka kematiannya 29,37 per seribu,” kata Hasto Wardoyo.

Menurut Hasto Wardoyo, berdasarkan hasil Long Form SP2020 dari Badan Pusat Statistik, angka kematian bayi dan angka kematian balita di Nusa Tenggara Barat itu di atas angka rata-rata nasional yaitu 16,83 kematian per seribu bayi dan 19,83 kematian per seribu balita.

Dua provinsi yang memiliki prevalensi stunting rendah yakni Bali memiliki TFR 2,04 dan DKI Jakarta memiliki angka TFR 1,75. Berdasarkan hasil survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, angka prevalensi stunting di Bali terendah di Indonesia yakni 8 persen. DKI Jakarta yang memiliki prevalensi stunting terendah kedua dengan angka 14,8 persen.

Karena itu untuk menurunkan prevalensi stunting maka Pemerintah Daerah se-NTB harus menekan angka TFR dan menurunkan angka kematian bayi dan balita. Hasto Wardoyo mengatakan perlunya peningkatan pelayanan kontrasepsi KB di Nusa Tenggara Barat sebab risiko kematian ibu dan anak dipengaruhi oleh hamil dengan risiko 4 terlalu, yakni terlalu muda, terlalu dekat, terlalu banyak, dan terlalu tua. Di Nusa Tenggara Barat sendiri angka-angka 4 terlalu tersebut cukup tinggi.

BACA JUGA:Menparekraf Dorong Para Pelaku Ekraf di INACRAFT Jadi Agen Perubahan Kebangkitan Ekonomi

Berdasarkan hasil survei SSGI tahun 2022, angka prevalensi stunting NTB sebesar 32,7 persen. Angka ini merupakan tertinggi keempat secara nasional yang berada pada rata-rata 21,6 persen. 

Berdasarkan SSGI 2022 tersebut, angka prevalensi stunting tertinggi ada di Kabupaten Lombok Tengah 37,0 persen. Sedangkan yang terendah di Kabupaten Sumbawa Barat dengan prevalensi 13,9 persen.

Hasto juga menyebutkan perlunya memberdayakan Tim Pendamping Keluarga (TPK).

“Alhamdulillah, Kabupaten Lombok Tengah tadi mengatakan sudah memberdayakan Tim Pendamping Keluarga. Di Lombok Tengah sudah dibentuk 797 Tim Pendamping Keluarga dengan jumlah personal sebanyak 2.391 orang,” kata Hasto Wardoyo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: