Suku Paling Ditakuti di Afrika Timur, Begini Kehidupan Suku Maasai Yang Sebenarnya
Suku Paling Ditakuti di Afrika Timur, Begini Kehidupan Suku Maasai Yang Sebenarnya-pagaralampos-kolase
PAGARALAMPO.COM - Di tengah luasnya sabana Afrika Timur, hidup sebuah suku yang telah menarik perhatian dunia karena budaya unik, keberanian, dan kedekatannya dengan alam suku Maasai.
Mereka bukan hanya penggembala tangguh yang menggiring ternak melintasi padang rumput Kenya dan Tanzania, tetapi juga penjaga warisan leluhur yang penuh makna dan sedang terancam oleh arus modernisasi.
Suku Maasai merupakan bagian dari kelompok etnis Nilotik yang berasal dari Lembah Sungai Nil bagian atas, tepatnya dari wilayah Sudan Selatan saat ini.
BACA JUGA:Kekayaan Sejarah Pasemah Dibalik Historis Megalitikum Yang tak Terwariskan
Migrasi besar-besaran membawa mereka ke selatan melewati Kenya hingga Tanzania antara abad ke-15 hingga ke-17.
Dalam proses migrasi tersebut, mereka menggusur dan menyerap berbagai suku lain, memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga ribuan kilometer persegi.
Masa kejayaan mereka terjadi pada pertengahan abad ke-19, ketika wilayah Maasai membentang dari Gunung Marsabit di utara Kenya hingga Dodoma di selatan Tanzania.
Ciri khas penampilan suku Maasai sangat mencolok.
BACA JUGA:Histori Gunung Agung Pauh, Pintu Gerbang Wisata Pagar Alam
Mereka memiliki tubuh tinggi ramping, mengenakan kain merah yang disebut Shuka, dan perhiasan manik-manik berwarna-warni yang menggambarkan status sosial, usia, dan afiliasi keluarga.
Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Maa, meskipun sebagian besar juga fasih berbahasa Swahili dan Inggris karena pengaruh pendidikan formal.
Secara tradisional, Maasai adalah masyarakat semi-nomaden yang sangat bergantung pada penggembalaan ternak.
Sapi, kambing, dan domba bukan hanya menjadi sumber makanan, tetapi juga simbol kekayaan, status sosial, dan spiritualitas.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
