Pemkot PGA

Rempah, Perdagangan, dan Warisan Kekuasaan Kesultanan Ternate

Rempah, Perdagangan, dan Warisan Kekuasaan Kesultanan Ternate

Rempah, Perdagangan, dan Warisan Kekuasaan Kesultanan Ternate-Foto: net -

BACA JUGA:Sejarah Candi Kidal: Penghormatan untuk Anusapati Raja Singasari yang bercorak Hindu!

Peristiwa ini menjadikan Ternate simbol perlawanan terhadap kolonialisme di Nusantara.

Tantangan Kolonial dan Kemunduran Kekuasaan

Setelah kepergian Portugis, ancaman baru muncul dengan kedatangan Belanda di Maluku pada akhir abad ke-16.

Awalnya, hubungan mereka bersifat kooperatif, tetapi kebijakan monopoli VOC atas perdagangan rempah-rempah perlahan melemahkan ekonomi Ternate.

Tekanan ini berlanjut hingga abad ke-17, mengurangi pengaruh politik kesultanan secara drastis, meskipun semangat perlawanan tetap ada dalam masyarakat.

BACA JUGA:Menyelami Jejak Sejarah Keraton Solo Gabung NKRI & Daerah Istimewa Surakarta!

BACA JUGA:Sejarah Rumah Kajang Lako Jambi, Mempunyai Ciri Khas dan Keunikan Rumah!

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Meski kekuatan politiknya meredup, Kesultanan Ternate terus bertahan sebagai penjaga tradisi dan identitas budaya Maluku Utara.

Gelar sultan masih dipertahankan sebagai simbol persatuan dan pelestari sejarah.

Sejarah panjang Kesultanan Ternate menjadi bukti kejayaan maritim Nusantara yang mampu bersaing di kancah internasional, sekaligus meninggalkan warisan budaya yang terus hidup dalam memori kolektif bangsa Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait