Kekhawatiran Israel bukan tanpa alasan. Ingatan publik masih segar akan serangan rudal balistik Iran yang memporak-porandakan Tel Aviv pada Juni 2025 lalu.
Saat ini, Iran memiliki teknologi rudal dengan daya jelajah di atas 1.500 km, sementara Israel mendesak AS untuk menekan Iran agar hanya boleh memiliki rudal berjarak maksimal 300 km.
"Bagi Israel, nuklir bukan lagi ancaman mendesak karena Iran tahu risiko global jika menggunakannya. Ancaman nyata adalah hujan rudal yang bisa datang kapan saja," tulis Sabpri Piliang dalam analisanya.
BACA JUGA:Pendekatan Humanis Polantas Menyapa, Satlantas Polres Pagar Alam Sampaikan Pesan Ini ke Masyarakat
Kembalinya "Chemistry" Trump-Netanyahu
Dunia mencatat betapa berbedanya perlakuan Trump dibandingkan era Joe Biden atau Barack Obama. Jika Biden sempat menahan pengiriman bom seberat 2.000 pon ke Israel pada akhir 2024, Trump justru langsung mencairkannya sesaat setelah pelantikan pada Januari 2025.
Kedekatan unik ini disebut Netanyahu sebagai "sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah." Namun, kedekatan ini pula yang memicu kekhawatiran global.
Apakah Trump akan menjadi mediator perdamaian, atau justru "menari" mengikuti langgam provokasi Netanyahu untuk menyerang Iran secara langsung?
BACA JUGA:Oknum Kepala Kantor Pos Pagar Alam DItahan, Diduga Melakukan Kekerasan Seksual Kepada Pegawainya
Skenario "Lateral": Bom di Teheran Besok Pagi?
Situasi diprediksi bisa berubah 360 derajat pasca-pertemuan hari ini. Iran sendiri menunjukkan sikap defensif yang fleksibel, menyatakan siap menunda pengayaan uranium demi pencabutan sanksi ekonomi.
Namun, jika Trump memilih untuk mengikuti ego Netanyahu dan memasukkan poin rudal balistik ke dalam perjanjian, kebuntuan dipastikan terjadi.
Jika negosiasi gagal, skenario serangan militer Amerika Serikat ke fasilitas Iran bukan lagi sekadar isapan jempol.
Dunia kini menanti: apakah jabat tangan di Gedung Putih hari ini akan membawa kesejukan, atau justru membakar Timur Tengah menjadi lautan api?