“Literasi harus inklusif. Semua warga, termasuk penyandang disabilitas, berhak mendapatkan akses informasi yang adil,” ujarnya.
Fitriana menjelaskan, Pekan Literasi Bahasa Isyarat digelar selama sepekan dan diikuti oleh sekitar 550 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari aparatur sipil negara, pustakawan, pelajar, komunitas, hingga organisasi perempuan. Narasumber utama kegiatan ini berasal dari komunitas Tuli, yakni Ketua GERKATIN Sumatera Selatan.
BACA JUGA:Sejarah Gedung Balai Pustaka: Pusat Lahirnya Sastra dan Literasi Modern Indonesia!
Ia menambahkan, kegiatan tersebut akan dijadikan agenda tahunan sebagai bagian dari penguatan gerakan literasi inklusif di Sumatera Selatan. Bahkan, program literasi bahasa isyarat sebelumnya telah mengantarkan Sumatera Selatan meraih Inovasi Government Award (IGA) tingkat nasional pada 2023.
“Harapannya, literasi bahasa isyarat menjadi budaya komunikasi yang tumbuh di tengah masyarakat, bukan sekadar program seremonial,” pungkasnya.