Pemkot PGA

Zamannya Serba Digital Budaya Literasi Siswa Masih Diuji

Zamannya Serba Digital Budaya Literasi Siswa Masih Diuji

Foto : Budaya membaca dikalangan siswa ditengah era digital.--ist

PAGARALAMPOS.COM - Di sela kesibukan siswa yang akrab dengan layar gawai dan media sosial, kebiasaan membaca buku dan menulis secara mendalam perlahan kian jarang ditemui. Arus informasi yang datang begitu cepat sering kali tidak memberi ruang bagi siswa untuk berhenti sejenak, memahami, dan berpikir kritis.

Fenomena ini menjadi perhatian Dinas Pendidikan Sumatera Selatan. Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Dinas Pendidikan Sumsel, Misral, S.Sn., M.Sn., menilai bahwa tantangan literasi saat ini bukan hanya soal minat baca, tetapi juga perubahan cara belajar dan cara berpikir generasi muda.

“Anak-anak sekarang hidup di tengah banjir informasi. Tantangannya adalah bagaimana mereka tidak sekadar membaca, tetapi mampu memahami dan menyaring apa yang mereka terima,” ujar Misral.

Menurutnya, literasi memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca teks. Literasi menjadi fondasi penting dalam membentuk pola pikir, karakter, serta kemampuan siswa dalam mengambil keputusan sehari-hari.

BACA JUGA:Literasi Kunci Peradaban Memahami Dunia

BACA JUGA:Pagar Alam Raih Juara I Literasi Budaya di Festival Literasi Sumsel 2025

Perubahan pola belajar siswa, kata Misral, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran gawai dan media sosial. Kebiasaan membaca panjang dan mendalam perlahan tergeser oleh konten singkat yang instan dan sering kali dikonsumsi tanpa verifikasi.

“Kondisi ini tidak sepenuhnya salah teknologi. Yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama adalah bagaimana mengarahkan teknologi agar mendukung proses belajar, bukan justru melemahkannya,” ujarnya.

Di lingkungan sekolah, budaya literasi juga dinilai belum sepenuhnya tumbuh secara alami. Program literasi kerap hadir dalam bentuk kegiatan rutin, namun belum selalu diiringi dengan ruang diskusi dan refleksi yang mendorong siswa berpikir kritis.

“Membaca seharusnya menjadi pintu untuk berdialog, bertanya, dan menulis. Di sanalah proses belajar sesungguhnya terjadi,” kata Misral.

Ia berharap sekolah dapat menjadi ruang yang ramah bagi pertukaran gagasan. Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, tetapi menjadi ruang hidup tempat siswa berdiskusi, berekspresi, dan menemukan sudut pandang baru.

Dalam upaya menumbuhkan budaya literasi, peran guru dinilai sangat menentukan. Guru tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga teladan dalam membaca, menulis, dan berpikir kritis.

“Ketika guru menunjukkan kecintaan pada literasi, siswa akan mengikuti dengan sendirinya,” ujarnya.

BACA JUGA:Peningkatan Budaya Literasi di Sumsel melalui Festival Literasi

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait