Kortisol yang berlebihan juga dapat mengganggu kualitas tidur dan memicu kelelahan berkepanjangan.
Tak hanya berdampak pada fisik, hormon stres akibat marah juga memengaruhi kesehatan mental. Kadar kortisol yang tinggi dapat mengganggu fungsi memori dan konsentrasi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu gangguan kecemasan dan depresi.
Seseorang yang mudah marah juga cenderung mengalami suasana hati yang tidak stabil dan kesulitan mengendalikan emosi.
BACA JUGA: Biji Labu, Ini Dia Nutrisi dan khasiat Keuntungannya Yang Wajib Anda Ketahui!
Sistem pencernaan pun tak luput dari dampak kemarahan.
Saat marah, aliran darah lebih difokuskan ke otot dan jantung, sementara organ pencernaan “diabaikan” sementara waktu.
Jika hal ini sering terjadi, risiko gangguan lambung seperti maag, nyeri perut, hingga sindrom iritasi usus dapat meningkat.
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya mengelola emosi marah dengan cara yang sehat.
Menarik napas dalam, berolahraga ringan, menulis perasaan, atau sekadar mengambil jeda sebelum bereaksi dapat membantu menurunkan produksi hormon stres.
BACA JUGA: Inilah 6 Keuntungan Biji Mahoni dan Cara yang Benar untuk Mengonsumsinya, Yuk Simak!
Aktivitas relaksasi seperti meditasi dan doa juga terbukti efektif menenangkan sistem saraf.
Marah memang tidak bisa dihindari sepenuhnya.
Namun, mengendalikan respons terhadap kemarahan adalah kunci untuk melindungi tubuh dari serangan hormon bahaya.
Dengan mengelola emosi secara bijak, kita tidak hanya menjaga hubungan sosial tetap sehat, tetapi juga melindungi jantung, otak, dan seluruh sistem tubuh dari dampak negatif yang tersembunyi.