Jenis Legong paling klasik yang biasa dipentaskan di lingkungan kerajaan. Ceritanya sering diambil dari kisah-kisah epos Ramayana atau Mahabharata.
Legong Lasem
Tarian ini menceritakan kisah Raja Lasem yang jatuh cinta pada Putri Rangkesari. Namun kisah ini berakhir tragis ketika cinta sang raja ditolak dan terjadi peperangan.
BACA JUGA:Rahasia Tembok Kota Tua yang Masih Menyimpan Jejak Misteri Zaman Dulu
Legong Jobog
Mengambil cerita dari kisah Ramayana, yakni tentang pertarungan antara dua kera sakti, Subali dan Sugriwa, yang berjuang memperebutkan kekuasaan.
Cerita-cerita yang ditampilkan dalam Tari Legong tidak sekadar hiburan, melainkan juga mengandung pesan moral seperti tentang cinta, kesetiaan, pengorbanan, serta akibat dari keserakahan.
Fungsi dan Makna Tari Legong
BACA JUGA:Rahasia Benteng Tua yang Tetap Kokoh Meski Dihantam Waktu
Awalnya Tari Legong hanya dipentaskan di lingkungan istana atau pura pada upacara keagamaan. Hal ini membuatnya lekat dengan kesakralan dan spiritualitas masyarakat Bali.
Namun seiring perkembangan zaman, Legong kini juga ditampilkan dalam acara pariwisata, festival budaya, hingga panggung internasional.
Meski demikian, nilai filosofisnya tetap kuat. Gerakan yang penuh kehalusan melambangkan kelembutan hati, sedangkan irama gamelan mencerminkan harmoni kehidupan.
Bagi masyarakat Bali, menari Legong bukan hanya soal seni, tetapi juga bentuk bakti kepada dewa-dewi dan leluhur.
BACA JUGA:Ngopi di Jejak Kolonial yang Disulap Jadi Kafe Estetik Kekinian
Tari Legong di Era Modern
Di tengah derasnya arus globalisasi, Tari Legong tetap bertahan sebagai salah satu ikon seni Bali. Bahkan, Legong sering menjadi sajian utama dalam promosi pariwisata Indonesia di luar negeri.