Catatan Kolonial Menyebutnya Lain, Tapi Rakyat Mengenalnya Sebagai Ibu Negeri

Selasa 29-07-2025,13:45 WIB
Reporter : Yogi
Editor : Gusti

Catatan Belanda menggambarkannya sebagai pemberontak fanatik. 

Sosok keras kepala yang tak bisa diajak kompromi. 

Mereka menuliskan kisahnya dari balik meja dan senjata. 

Tapi mereka lupa bahwa rakyat punya cara sendiri untuk mengenang pahlawannya.

BACA JUGA:Mengenal Gunung Ulumasen: Sejarah dan Legenda di Balik Namanya

Di antara masyarakat Aceh, ia dikenal dengan sebutan Ibu Negeri. 

Julukan yang tidak diberikan oleh negara tapi oleh hati yang mengenangnya.

Ia bukan sekadar pejuang tapi simbol harapan dan keberanian. 

Bahkan dalam masa tuanya saat tubuh melemah ia tetap menjadi cahaya di tengah kegelapan.

BACA JUGA:Sejarah Bukan Buat Orang Tua! Ini Cara Seru Anak Muda Ngulik Zaman Dulu

Ia buta saat ditangkap oleh Belanda tapi pandangannya terhadap kemerdekaan tak pernah padam. 

Ia dipindahkan ke Sumedang jauh dari tempat kelahirannya. 

Tapi bahkan di tanah asing ia tetap menjaga harga diri sebagai perempuan Aceh. 

Ia tidak pernah tunduk bahkan setelah kehilangan semuanya.

BACA JUGA:Sejarah Danau Labuan Cermin: Keindahan Dua Rasa di Kalimantan Timur!

Di Sumedang ia wafat dalam keheningan tanpa sorotan media tanpa upacara negara. 

Kategori :