Perubahan ini membuat lendir serviks menjadi lebih cair dan meningkatkan produksi lendir di vagina.
Proses ini mungkin berakibat pada keputihan setelah menstruasi. Keputihan ini bersifat normal dan merupakan bagian dari mekanisme reproduksi alami wanita.
BACA JUGA:Mengatasi Keputihan Setelah Menstruasi: Penjelasan Proses Alami dan Tips untuk Menanganinya
4. Pil kontrasepsi
Pil kontrasepsi mengandung hormon estrogen dan progesteron yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh. Salah satu akibat dari perubahan hormon ini adalah peningkatan produksi lendir serviks yang bertujuan untuk mencegah sperma masuk ke rahim.
Umumnya, hal ini menyebabkan peningkatan keputihan pada wanita yang menggunakan pil kontrasepsi. Keputihan pada pengguna pil kontrasepsi biasanya lebih putih dan memiliki tekstur yang lebih kental.
5. Vaginosis bakterialis
Vaginosis bakterialis (BV) adalah infeksi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan bakteri normal dalam vagina. Vagina memiliki tingkat keasaman yang dijaga oleh bakteri baik.
Ketika bakteri jahat menggantikan bakteri baik, pH di vagina bisa berubah. Hal ini bisa memengaruhi lendir serviks dan mengubah konsistensi serta bau keputihan. Salah satu cirinya adalah perubahan warna keputihan menjadi putih susu.
BACA JUGA:Tak Harus Ke Dokter? Ini Obat Keputihan Sesuai Penyebabnya
Cara Mengatasi Keputihan Setelah Menstruasi
Perubahan lendir serviks terjadi akibat ketidakteraturan hormon sepanjang siklus menstruasi.
Lantas, berapa lama keputihan selama menstruasi? Jika siklus menstruasi Anda 28 hari, biasanya keputihan akan mengikuti pola berikut:
- Hari 1-4 setelah menstruasi. Bertekstur kering atau lengket, warnanya bisa putih atau kuning.
- Hari 4-6. Teksturnya lengket, agak lembab, dan berwarna putih.
- Hari 7-9. Konsistensinya lembut seperti yogurt, basah.
- Hari 10-14. Menyerupai putih telur mentah, licin, dan sangat basah.
- Hari 14-28. Keputihan terhenti hingga menstruasi berikutnya.