Lokasinya yang tidak terlalu tinggi membuatnya mudah dijangkau, bahkan oleh wisatawan keluarga.
Warisan Budaya yang Tetap Dijaga
Meskipun kini menjadi tempat wisata, masyarakat Desa Bugbug tetap menjaga keseimbangan antara pariwisata dan adat istiadat.
BACA JUGA:Sejarah Candi Bubrah: Jejak Budaya Buddha di Tengah Keheningan Prambanan!
Wilayah Bukit Asah masih dikelola secara adat oleh desa pakraman (desa adat Bali), dan setiap pembangunan atau kegiatan di wilayah tersebut harus seizin dan sesuai dengan norma lokal.
Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga kesucian dan nilai historis Bukit Asah.
Hal ini juga sejalan dengan filosofi hidup masyarakat Bali, yaitu Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Harapan ke Depan
Melihat animo pengunjung yang terus meningkat, tantangan ke depan adalah bagaimana mempertahankan keasrian Bukit Asah tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisi.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Danau Batur: Permata Alam di Kaki Gunung Bali!
Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pelaku wisata agar pengelolaan kawasan ini tetap berkelanjutan.
Bukit Asah bukan sekadar tempat berfoto atau berkemah.
Ia adalah simbol keharmonisan antara manusia dan alam, tempat di mana sejarah, kepercayaan, dan keindahan alam berpadu menjadi satu.
Di balik hamparan hijaunya yang tenang, terdapat kisah tentang leluhur, adat, dan cinta terhadap tanah kelahiran.