Di kawasan ini terdapat sebuah pura kecil yang sering dijadikan tempat persembahyangan, terutama saat upacara adat desa berlangsung.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Raung: Antara Letusan dan Legenda di Timur Jawa!
Salah satu upacara yang terkenal adalah Usaba Dangsil, sebuah ritual besar yang dilaksanakan oleh warga Desa Bugbug setiap sepuluh tahun sekali.
Dalam rangkaian upacara tersebut, Bukit Asah menjadi salah satu titik penting.
Tempat ini dianggap suci karena dipercaya sebagai lokasi di mana para leluhur dahulu kala melakukan tapa brata atau semedi.
Aura ketenangan yang terpancar dari bukit ini dipercaya mampu memperkuat konsentrasi spiritual, menjadikannya tempat refleksi dan perenungan diri yang ideal.
Perkembangan Sebagai Destinasi Wisata
BACA JUGA:Sejarah Gunung Karangetang: Letusan, Kehidupan Masyarakat, dan Warisan Alam dari Pulau Siau!
Memasuki dekade 2010-an, Bukit Asah mulai dikenal wisatawan, terutama setelah munculnya berbagai dokumentasi visual dari para pelancong yang membagikan keindahan tempat ini di media sosial.
Dari sinilah nama Bukit Asah mulai mencuat sebagai alternatif wisata di luar keramaian Bali selatan.
Pemerintah daerah Karangasem kemudian mulai memberi perhatian dengan memperbaiki akses jalan dan mengelola lokasi ini sebagai kawasan wisata alam.
Dengan konsep wisata ramah lingkungan dan tetap mempertahankan nilai-nilai lokal.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Karangetang: Letusan, Kehidupan Masyarakat, dan Warisan Alam dari Pulau Siau!
Bukit Asah berkembang menjadi tempat favorit untuk berkemah, menikmati matahari terbit, hingga hanya sekadar melepas penat.
Yang membuat Bukit Asah istimewa adalah pemandangannya yang dramatis.
Dari puncak bukit, pengunjung bisa melihat laut biru yang terbentang luas, pulau-pulau kecil seperti Pulau Paus, dan garis pantai timur Bali yang memukau.