Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki ketinggian sekitar 1.584 meter di atas permukaan laut.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Rowo Pati: Perpaduan Alam dan Legenda di Jawa Tengah!
Sedangkan Lewotobi Perempuan berada sedikit lebih rendah namun lebih sering menunjukkan aktivitas vulkanik.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa gunung ini telah mengalami letusan berkali-kali, terutama dari kawah Lewotobi Perempuan.
Letusan besar tercatat pada tahun 1921, 1935, 1949, dan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2023 lalu.
Letusan-letusan ini membawa dampak besar terhadap masyarakat sekitar, terutama dalam bentuk pengungsian dan kerusakan lahan pertanian.
Sejarah Aktivitas dan Dampaknya
Salah satu letusan paling bersejarah terjadi pada bulan Januari 2023, di mana aktivitas erupsi dari Lewotobi Perempuan menyebabkan ribuan warga diungsikan.
Letusan ini menimbulkan hujan abu vulkanik yang cukup tebal, serta aliran lava pijar yang mengancam pemukiman.
Meski tidak sampai menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini mempertegas status Lewotobi sebagai gunung api yang harus terus diawasi.
Namun, jauh sebelum itu, dalam sejarah lisan masyarakat adat Flores Timur, letusan-letusan Lewotobi telah menjadi bagian dari narasi budaya.
Letusan dianggap sebagai "kemarahan" alam terhadap pelanggaran adat atau ketidakseimbangan kehidupan masyarakat.
BACA JUGA:Sejarah Bukit Kandis: Antara Legenda, Jejak Geologi, dan Potensi Wisata Bengkulu!
Oleh sebab itu, setiap muncul tanda-tanda peningkatan aktivitas gunung.
biasanya dilakukan upacara adat sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan kepada leluhur dan penjaga gunung.
Mitos dan Kepercayaan Lokal