Bahasa Daerah dan Sistem Kepercayaan
Bahasa Sabu tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wadah pelestarian budaya—digunakan dalam nyanyian adat, doa ritual, hingga syair-syair leluhur. Ini menjadi pilar penting dalam menjaga identitas Suku Sabu.
Sebelum agama besar masuk, masyarakat Sabu memeluk kepercayaan tradisional bernama Jingi Tiu. Kepercayaan ini menghormati kekuatan alam, leluhur, dan Dewa Langit yang dikenal sebagai Du’a Bapu.
Kalender adat yang mengatur musim tanam dan panen disusun berdasarkan sistem kepercayaan ini.
BACA JUGA:Lurah Burung Dinang Ajak Warga Berkolaborasi Jaga Kebersihan
BACA JUGA:Sejarah Suku Bawean: Menelusuri Jejak Budaya di Pulau Kecil yang Kaya Tradisi!
Meskipun kemudian banyak masyarakat memeluk Islam dan Kristen, kepercayaan lama tetap hidup berdampingan dan terjaga melalui praktik budaya lokal.
Ragam Upacara dan Tradisi
Ritual adat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Suku Sabu. Salah satu yang paling dikenal adalah Upacara Do’o, yakni permohonan restu sebelum musim tanam. Sementara itu, Upacara Ledo Hawu digelar sebagai bentuk syukur pasca panen.
Instrumen musik seperti gong dan tambur, serta nyanyian adat, digunakan sebagai sarana menyampaikan pesan moral, kisah leluhur, dan ajaran spiritual.
Tenun Ikat: Warisan Bernilai Simbolik
Tenun ikat dari Sabu bukan sekadar karya seni tekstil, tetapi juga simbol status sosial dan spiritual. Motif-motif yang diusung biasanya menggambarkan kisah alam, mitos leluhur, serta filosofi hidup.
BACA JUGA:Sejarah Bandara Soekarno-Hatta: Dari Lahan Cengkareng Menuju Gerbang Udara Internasional Indonesia!
Bagi perempuan Sabu, keterampilan menenun adalah tolok ukur kedewasaan dan kesiapan berperan dalam adat istiadat.
Tantangan Masa Kini dan Upaya Pelestarian