Para desainer rambut turut berkolaborasi dengan fashion stylist untuk menciptakan tampilan yang utuh, dari ujung kepala hingga kaki.
Tak jarang, pengunjung acara justru terinspirasi untuk mencoba gaya rambut tradisional yang mereka lihat di panggung catwalk.
Kembalinya gaya rambut tradisional Indonesia ini bukan hanya tren sesaat, tapi sinyal positif tentang bangkitnya kesadaran budaya.
BACA JUGA:Teknik Menata Rambut untuk Menyembunyikan Uban dalam Waktu Singkat
Di balik setiap gulungan rambut atau lilitan konde, ada filosofi dan nilai-nilai kehidupan yang layak dikenang.
Memakai gaya rambut nenek moyang bukan berarti menolak kemajuan, justru sebaliknya—kita sedang membuktikan bahwa budaya bisa tampil keren di zaman apa pun. Identitas lokal pun tidak luntur, malah semakin berkilau di tengah arus dunia.
Dengan semakin luasnya akses terhadap informasi dan tutorial, serta makin banyak tokoh publik yang memopulerkan gaya tradisional, kemungkinan tren ini bertahan dalam jangka panjang sangat besar.
Sekolah-sekolah mulai memasukkan pelajaran budaya lokal, termasuk gaya rambut, ke dalam kegiatan seni. Anak-anak diajarkan untuk bangga pada keindahan warisan mereka sejak dini.
BACA JUGA:Tampil Anggun dan Menarik dengan 4 Gaya Rambut Panjang Lurus Wanita Ala Korea
Semangat inilah yang akan menjadi bahan bakar bagi kelestarian budaya di masa depan.
Maka dari itu, saat kita melihat seseorang memakai sanggul, konde, atau gaya rambut adat lainnya di jalan, bukan lagi hal yang asing.
Sebaliknya, itu adalah pengingat bahwa kita punya akar kuat yang tidak lekang oleh zaman. Gaya rambut tradisional Indonesia bukan hanya soal bentuk, tetapi juga tentang keberanian untuk menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Mari kita rayakan tradisi bukan sebagai beban masa lalu, tapi sebagai gaya hidup masa kini.