Desain jembatan mengadopsi elemen modern dengan lantai transparan dari kaca tebal khusus yang mampu menahan beban berat dan cuaca ekstrem.
Material kaca yang digunakan adalah kaca tempered laminated, yang aman untuk diinjak oleh banyak orang sekaligus, serta tahan terhadap retakan dan tekanan.
BACA JUGA:Sejarah Rumah Gadang Tan Malaka: Warisan Budaya dan Jejak Seorang Tokoh Bangsa!
Dari sisi panjang, jembatan ini membentang sekitar 100 meter, menghubungkan dua sisi sungai yang selama ini dipisahkan oleh aliran air tanpa jembatan pejalan kaki yang memadai.
Pemasangan lampu-lampu LED di bagian sisi dan bawah jembatan menambah keindahan, terutama pada malam hari, menjadikan Jembatan Kaca Cisadane tampak bersinar di tengah suasana kota.
Fungsi Lebih dari Sekadar Penghubung
Jembatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pejalan kaki, tetapi juga menjadi titik kumpul masyarakat, tempat bersantai, dan lokasi favorit untuk berfoto.
Lantai kacanya memberi sensasi unik berjalan "di atas air", memberikan pengalaman visual yang tidak biasa.
Selain itu, keberadaan jembatan ini menjadi pemicu tumbuhnya kegiatan ekonomi lokal di sekitar kawasan sungai.
BACA JUGA:Sejarah Rumah Adat Langkanae Luwu: Simbol Keagungan Budaya Bugis di Tanah Luwu!
Warung, kafe kecil, dan pedagang kaki lima mulai bermunculan, menyambut kehadiran pengunjung yang semakin ramai.
Makna Simbolik bagi Kota Tangerang
Jembatan Kaca Cisadane menyimpan makna simbolis sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan. Di satu sisi, ia berdiri di atas Sungai Cisadane yang penuh nilai sejarah dan pernah menjadi saksi perubahan zaman.
Di sisi lain, ia menampilkan desain futuristik yang mencerminkan semangat modernitas dan inovasi kota.
Pemerintah Kota Tangerang juga menjadikan jembatan ini sebagai representasi kota yang ramah terhadap pejalan kaki dan berorientasi pada pembangunan ruang publik yang humanis.
Respons dan Antusiasme Masyarakat