Gedung ini juga kerap digunakan sebagai lokasi upacara peringatan Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, serta berbagai agenda yang melibatkan komunitas pejuang veteran.
Interiornya yang masih mempertahankan bentuk asli menjadi daya tarik tersendiri bagi pelajar, peneliti, hingga wisatawan yang ingin merasakan nuansa sejarah dari dekat.
Upaya Pelestarian dan Tantangan Modernisasi
Di tengah arus modernisasi dan pembangunan kota, Gedung Djoeang 45 menghadapi tantangan untuk tetap bertahan sebagai bangunan bersejarah.
Berbagai upaya pelestarian telah dilakukan, termasuk renovasi ringan yang bertujuan menjaga keaslian arsitektur tanpa mengubah nilai historisnya.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Candi Bumi Ayu: Jejak Hindu di Tanah Sumatra!
Pemerintah dan komunitas pecinta sejarah di Solo terus mendorong agar gedung ini tidak hanya dijaga sebagai bangunan fisik, tetapi juga dihidupkan sebagai ruang edukasi sejarah.
Dengan cara itu, generasi muda tidak hanya mengenal perjuangan masa lalu dari buku, tetapi juga dari ruang-ruang nyata yang pernah menjadi saksi peristiwa penting bangsa.