Fase ini menjadi bagian penting dari transformasi gedung, dari tempat hiburan kolonial menjadi bagian dari sistem represif penjajahan Jepang.
BACA JUGA:Black Death Pandemi yang Mengubah Sejarah Dunia dan Mengerikan Eropa
Ketegangan dan penderitaan yang dirasakan rakyat Indonesia pada masa ini turut membekas dalam dinding-dinding bangunan tua tersebut.
Pasca Kemerdekaan dan Lahirnya Nama "Gedung Djoeang 45"
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Gedung ini kemudian diambil alih oleh para pejuang kemerdekaan.
Namanya pun berubah menjadi Gedung Djoeang 45, sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat perjuangan generasi 1945 dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Gedung ini kemudian digunakan sebagai markas para pejuang, tempat koordinasi, serta kegiatan sosial dan politik yang bertujuan memperkuat kemerdekaan Indonesia.
Di sinilah nilai-nilai nasionalisme benar-benar tumbuh subur, menggantikan nuansa eksklusif yang dahulu pernah melekat.
BACA JUGA:Jatuhnya Konstantinopel Akhir Kekaisaran Romawi, Awal Dominasi Islam
Gedung ini menjadi pusat kegiatan organisasi-organisasi perjuangan, termasuk veteran, pemuda, dan berbagai komunitas lokal yang aktif dalam pembangunan bangsa.
Nama "Djoeang" (ejaan lama dari "juang") menyiratkan tekad yang kuat untuk terus berjuang, tidak hanya melawan penjajah, tetapi juga dalam mempertahankan kedaulatan dan membangun Indonesia merdeka.
Gedung ini pun menjadi simbol identitas nasional bagi warga Solo dan sekitarnya.
Gedung yang Menjadi Pusat Kebudayaan dan Edukasi
Seiring berjalannya waktu, Gedung Djoeang 45 tidak hanya dikenal sebagai monumen perjuangan, tetapi juga menjadi pusat kegiatan budaya dan edukasi.
Pemerintah Kota Surakarta bersama masyarakat menjadikannya tempat untuk pertunjukan seni, pameran sejarah, dan kegiatan edukatif lainnya yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan.
BACA JUGA:Genosida Tercepat Abad Ini Ketika Dunia Diam Saat Rwanda Berdarah