Bangunan ini dibuat "tenggelam" atau lebih rendah dari tanah di sekelilingnya, dengan tujuan agar tidak mudah terlihat oleh musuh sekaligus melindungi dari serangan meriam.
Hal ini membuat masyarakat sekitar menjulukinya sebagai Benteng Pendem, yang secara harfiah berarti “benteng terpendam”.
Di dalam kompleks benteng, terdapat bangunan-bangunan lain seperti barak tentara, gudang senjata, ruang komando, dan tempat tinggal para perwira.
Semua struktur dibangun dengan material kokoh seperti batu bata dan kapur, menunjukkan standar konstruksi tinggi pada masa kolonial.
Bentuk bangunannya yang simetris dan padat mencerminkan gaya arsitektur militer Eropa abad ke-19.
Peran dalam Perjuangan dan Masa Pendudukan
BACA JUGA:Normandia Berdarah Serangan D-Day yang Membuka Gerbang Kemenangan Sekutu
Seiring berjalannya waktu, Benteng Van Den Bosch juga menjadi tempat penting dalam catatan sejarah perlawanan rakyat Indonesia.
Selain digunakan oleh pasukan Belanda, benteng ini sempat dikuasai oleh tentara Jepang saat pendudukan pada Perang Dunia II, dan kemudian dimanfaatkan kembali oleh tentara Indonesia setelah kemerdekaan sebagai pos militer.
Bahkan, menurut beberapa catatan sejarah lokal, benteng ini pernah menjadi lokasi eksekusi pejuang kemerdekaan yang tertangkap oleh penjajah.
Aura kelam yang melekat pada benteng ini tak bisa dilepaskan dari jejak-jejak kekerasan dan perlawanan yang pernah terjadi di sana.
BACA JUGA:Perang Korea Konflik Kecil yang Membakar Blok Barat dan Timur
Restorasi dan Fungsi Wisata Sejarah
Memasuki abad ke-21, Benteng Van Den Bosch mulai dialihkan fungsinya dari bangunan militer menjadi objek wisata sejarah.
Pemerintah dan berbagai komunitas sejarah bekerja sama dalam pelestarian situs ini, termasuk renovasi bangunan yang rusak dan pengelolaan kawasan agar lebih ramah pengunjung.
Kini, benteng ini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Ngawi.