Dengan masuknya era kolonial dan modernisasi, keberadaan rumah adat ini sempat tergerus. Banyak masyarakat mulai beralih ke rumah bergaya modern dengan bahan bangunan yang lebih praktis.
Namun demikian, kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya mulai tumbuh.
Salah satu contoh nyata pelestariannya adalah berdirinya Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar di kawasan Purna MTQ Pekanbaru yang difungsikan sebagai museum budaya Melayu.
Rumah ini bukan hanya menunjukkan kekayaan arsitektur tradisional, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami akar budayanya.
Dari sisi estetika, rumah ini menunjukkan kemewahan yang sederhana. Ukiran-ukiran di dinding dan tiang rumah tidak hanya sebagai hiasan, tetapi mengandung makna filosofis.
BACA JUGA:Perang Terbesar di Nusantara Pangeran Diponegoro Guncang Kekuasaan Belanda
Misalnya, motif pucuk rebung melambangkan pertumbuhan dan harapan, sementara motif burung menunjukkan kebebasan dan cita-cita.
Tak kalah penting, Rumah Selaso Jatuh Kembar juga menjadi contoh penerapan arsitektur berkelanjutan.
Bahan-bahan alami yang digunakan ramah lingkungan dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap iklim tropis.
Ventilasi silang, atap tinggi, dan ruang terbuka memberikan sirkulasi udara yang baik serta kenyamanan termal yang tinggi.
Kini, Rumah Selaso Jatuh Kembar menjadi lebih dari sekadar warisan masa lalu. Ia menjadi simbol semangat melestarikan budaya, identitas lokal, serta kearifan dalam membangun lingkungan yang harmonis antara manusia dan alam.
BACA JUGA:Menelusuri Monumen Juang 45: Jejak Perjuangan dan Semangat Patriotisme!
Dengan menjaga dan mengenalkannya kepada generasi masa kini, rumah ini akan terus hidup dalam ingatan dan peradaban masyarakat Melayu, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang budaya yang kaya dan bermartabat.