Ulat ini tidak hanya kaya akan protein, tetapi juga memiliki citarasa yang khas.
Dalam proses pembuatannya, ulat-ulat ini dikumpulkan dengan hati-hati dan dibersihkan terlebih dahulu.
Selanjutnya, mereka dibumbui dengan berbagai rempah tradisional seperti garam, bawang merah, dan bumbu unik suku Asmat.
Ulat sagu lalu ditusuk pada tusuk bambu dan dipanggang di atas api.
BACA JUGA:Ingin Tahu Rahasia Keindahan Ukiran Kayu Asmat? Ini Penjelasannya!
Proses pemanggangan ini memberi aroma yang menarik dan menciptakan tekstur yang garing di luar namun lembut di bagian dalam.
Umumnya, sate ulat sagu disajikan bersama sambal pedas segar dan nasi hangat.
Rasa yang unik serta tekstur yang menarik memberikan sensasi yang berbeda bagi lidah yang berani mencobanya.
Bagi suku Asmat, makanan ini adalah elemen yang tidak terpisahkan dari identitas mereka serta warisan kuliner yang perlu dilestarikan dan dihargai.
BACA JUGA:Harga Emas Naik Lagi di Pagar Alam, Warga Mulai Kurangi Jumlah Pembelian
Menikmati sate ulat sagu juga dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan keanekaragaman hayati yang melimpah di sekitar mereka.