Sayangnya, sebagian besar bangunan pendukung ini sudah tidak utuh lagi dan hanya menyisakan bagian kaki atau pondasinya.
Relief ini menggambarkan kisah-kisah Jataka dan Pancatantra, yaitu cerita moral dan fabel dari India yang menceritakan kehidupan Buddha di masa lampau.
Cerita-cerita ini umumnya bertujuan memberikan pelajaran etis dan spiritual, dan keberadaannya menunjukkan kuatnya pengaruh budaya India dalam perkembangan agama dan kesusastraan di Jawa pada masa itu.
Hubungan dengan Kerajaan Mataram Kuno
Masa ini merupakan periode penting dalam sejarah Nusantara karena terjadi perkembangan besar dalam bidang keagamaan, sastra, dan arsitektur.
BACA JUGA:Suku Sangir dan Warisan Budaya yang Tak Lekang oleh Zaman: Ini Cara Mereka Melestarikannya
Rakai Pikatan, raja yang memerintah saat itu, dikenal sebagai penguasa yang mendukung toleransi antara dua agama besar: Hindu dan Buddha.
Candi Sojiwan sendiri diyakini merupakan tempat ibadah umat Buddha, dan kemungkinan dibangun sebagai penghormatan terhadap tokoh penting dalam lingkungan kerajaan.
Prasasti Rukam yang ditemukan tak jauh dari lokasi candi menyebutkan tentang pemugaran desa Rukam sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum Sri Kaluhunan.
Hal ini memberi indikasi bahwa pembangunan Candi Sojiwan bisa saja berkaitan dengan upaya kerajaan untuk mengabadikan atau memuliakan tokoh perempuan tersebut.
BACA JUGA:Ulama di Garis Depan Peran Mengejutkan K.H. Hasyim Asy’ari dalam Revolusi
Pemugaran dan Pelestarian
Baru pada akhir abad ke-20, pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan memulai proses pemugaran serius terhadap situs ini.
Pemugaran dimulai tahun 1996 dan selesai pada 2006. Proyek ini tidak hanya merekonstruksi bangunan utama, tetapi juga menata ulang situs di sekitarnya agar lebih representatif sebagai tempat wisata edukatif dan sejarah