Kita lebih suka mengenang detik-detik proklamasi atau kisah heroik di Surabaya.
Yogyakarta kadang sekadar catatan kaki.
Padahal, di sinilah jantung Republik pernah berdetak ketika paru-parunya nyaris kehabisan udara.
Kini, Yogyakarta tetap ada.
Tetap dengan Malioboronya, dengan keretanya yang pelan, dengan pagi yang tenang.
Tapi sejarahnya sering kali diabaikan, Seperti ingatan kolektif kita yang pelupa.
Sejarah bukan sekadar deret peristiwa, tapi juga rasa.
BACA JUGA:Sejarah Yunani Kuno: Mengapa Wanita Sparta Diperbolehkan Menikahi Dua Pria? Inilah Penjelasannya!
Dan Yogyakarta telah memberi rasa itu rasa pengorbanan, rasa setia, rasa percaya pada sesuatu yang belum tentu berhasil.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti melupakan. Yogyakarta bukan hanya kota budaya. Ia adalah kota penyelamat republik. Kota yang, tanpa banyak bicara, pernah menyelamatkan mimpi kita tentang Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat.
Sejarah tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu kita untuk kembali membacanya. Dengan hati.