Ia tak lagi punya wibawa.
Ia ditinggalkan para pengikutnya.
Dalam pelarian itulah ajal menjemputnya, pada tahun 1677, di Tegal Ironis Seorang raja besar dalam kekuasaan tapi kecil dalam hati rakyatnya, meninggal di tanah pengasingan, tanpa penghormatan, tanpa air mata.
Sejarah mengukir nama Amangkurat I bukan sebagai pemimpin yang bijak, tetapi sebagai tiran.
Namanya disebut dalam buku-buku pelajaran, tapi tanpa kebanggaan.
Ia adalah pelajaran tentang bagaimana kekuasaan tanpa cinta, hanya akan melahirkan kehancuran.
Dan kini, berabad-abad setelah kematiannya, kita masih bertanya
apa arti sebuah tahta jika tak ada rakyat yang rela berkorban untuk mempertahankannya
BACA JUGA:Sejarah Candi Umbul: Peninggalan Pemandian Kerajaan Mataram Kuno o di Magelang!