Di balik keindahannya, Pantai Tanjung Karang juga diselimuti oleh berbagai kisah misterius dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Berikut beberapa misteri yang masih menjadi bagian dari cerita lisan masyarakat sekitar:
1. Laut yang “Memanggil”
Beberapa nelayan dan penyelam lokal percaya bahwa ada wilayah laut tertentu di sekitar Tanjung Karang yang ‘memanggil’ manusia untuk tenggelam. Mereka menyebutnya “lino nu wula” atau "dunia dalam laut". Konon mereka yang terlalu lama menyelam di area tersebut sering kali merasakan “tarikan” yang tidak bisa dijelaskan secara logis.
Ada beberapa kasus orang hilang saat menyelam atau berenang di perairan tenang yang seharusnya aman. Salah satu kisah yang terkenal adalah hilangnya seorang penyelam lokal pada tahun 2003. Tubuhnya tidak pernah ditemukan dan hingga kini lokasi hilangnya menjadi area yang dihindari oleh warga.
Beberapa warga mengaku pernah melihat pulau kecil yang tiba-tiba muncul di tengah laut sekitar beberapa kilometer dari bibir pantai. Pulau ini hanya terlihat saat senja atau fajar dan selalu menghilang ketika didekati. Cerita ini sering dikaitkan dengan legenda "Pulau Malaqta" pulau gaib yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh-roh leluhur atau penjaga laut.
BACA JUGA:Sejarah Penggunaan Metode Hisab dalam Menentukan Idulfitri
BACA JUGA:Mengungkap Kisah Sejarah Metro Manila: Dari Kerajaan Kuno Hingga Ibu Kota Modern!
Beberapa tetua adat meyakini bahwa pulau itu hanya terlihat oleh orang-orang tertentu yang "diizinkan" melihatnya dan mereka yang mencoba mencarinya tanpa izin bisa tersesat atau mengalami kecelakaan.
3. Penjaga Laut dan Ritual Tolak Bala
Menurut tradisi masyarakat Kaili laut di Tanjung Karang dijaga oleh makhluk halus yang disebut “pue nu banua” (penguasa wilayah). Untuk menghormati keberadaan mereka, masyarakat dahulu sering melakukan ritual tolak bala sebelum melaut dengan menabur bunga tujuh rupa dan sesajen berupa beras kuning di tepi pantai.
Meski praktik ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda beberapa nelayan tua masih melakukannya secara diam-diam sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam.
BACA JUGA:Menyibak Sejarah Parangtritis, Warisan Budaya yang Berbalut Mitos