Pantai Cantik, Misteri Kuno, Tanjung Karang di Balik Lensa

Senin 21-04-2025,19:17 WIB
Reporter : Meydia
Editor : Almi

Misteri dan Kepercayaan Lokal

Di balik keindahannya, Pantai Tanjung Karang juga diselimuti oleh berbagai kisah misterius dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Berikut beberapa misteri yang masih menjadi bagian dari cerita lisan masyarakat sekitar:

1. Laut yang “Memanggil”

BACA JUGA:Menginggat Kembali Hari Kartini: Sejarah Warisan Ibu Kartini, Jejak Emansipasi yang Menginspirasi Bangsa!

BACA JUGA:Tari Kecak Bali: Jejak Sejarah, Nilai Sakral, dan Transformasinya Menjadi Warisan Budaya yang Mendunia!

Beberapa nelayan dan penyelam lokal percaya bahwa ada wilayah laut tertentu di sekitar Tanjung Karang yang ‘memanggil’ manusia untuk tenggelam. Mereka menyebutnya “lino nu wula” atau "dunia dalam laut". Konon mereka yang terlalu lama menyelam di area tersebut sering kali merasakan “tarikan” yang tidak bisa dijelaskan secara logis.

Ada beberapa kasus orang hilang saat menyelam atau berenang di perairan tenang yang seharusnya aman. Salah satu kisah yang terkenal adalah hilangnya seorang penyelam lokal pada tahun 2003. Tubuhnya tidak pernah ditemukan dan hingga kini lokasi hilangnya menjadi area yang dihindari oleh warga.

2. Pulau Gaib di Tengah Laut

Beberapa warga mengaku pernah melihat pulau kecil yang tiba-tiba muncul di tengah laut sekitar beberapa kilometer dari bibir pantai. Pulau ini hanya terlihat saat senja atau fajar dan selalu menghilang ketika didekati. Cerita ini sering dikaitkan dengan legenda "Pulau Malaqta" pulau gaib yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh-roh leluhur atau penjaga laut.

BACA JUGA:Sejarah Penggunaan Metode Hisab dalam Menentukan Idulfitri

BACA JUGA:Mengungkap Kisah Sejarah Metro Manila: Dari Kerajaan Kuno Hingga Ibu Kota Modern!

Beberapa tetua adat meyakini bahwa pulau itu hanya terlihat oleh orang-orang tertentu yang "diizinkan" melihatnya dan mereka yang mencoba mencarinya tanpa izin bisa tersesat atau mengalami kecelakaan.

3. Penjaga Laut dan Ritual Tolak Bala

Menurut tradisi masyarakat Kaili laut di Tanjung Karang dijaga oleh makhluk halus yang disebut “pue nu banua” (penguasa wilayah). Untuk menghormati keberadaan mereka, masyarakat dahulu sering melakukan ritual tolak bala sebelum melaut dengan menabur bunga tujuh rupa dan sesajen berupa beras kuning di tepi pantai.

Meski praktik ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda beberapa nelayan tua masih melakukannya secara diam-diam sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam.

BACA JUGA:Menyibak Sejarah Parangtritis, Warisan Budaya yang Berbalut Mitos

Kategori :