Keberadaan miniatur ini menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur bangsa.
Dari Sakral ke Estetika
Dahulu, miniatur candi dan arca lebih banyak ditemukan dalam konteks sakral, seperti ditempatkan di altar rumah, kuil kecil, atau dibawa dalam ritual keagamaan.
Namun, dalam perkembangannya, miniatur-miniatur ini juga mulai diproduksi untuk kebutuhan estetika dan edukasi.
BACA JUGA:Sejarah Taman Bunga Nusantara: Oase Warna-warni di Kaki Gunung Gede!
Banyak seniman modern maupun pengrajin tradisional di daerah seperti Magelang, Yogyakarta, dan Bali yang membuat miniatur sebagai suvenir wisata atau barang koleksi.
Miniatur candi dan arca kini banyak dijumpai di museum, galeri seni, hingga toko kerajinan.
Keindahan bentuknya serta nilai historisnya menjadikan benda ini sebagai salah satu artefak budaya yang terus diminati, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
Peran dalam Pendidikan dan Pelestarian Budaya
Miniatur juga berperan besar dalam pelestarian sejarah dan pendidikan budaya.
Di berbagai museum dan institusi pendidikan, miniatur digunakan sebagai alat bantu visual untuk mengenalkan arsitektur candi serta tokoh-tokoh dalam mitologi Hindu-Buddha.
Dengan melihat miniatur, generasi muda bisa mempelajari detail-detail candi yang mungkin sulit dijangkau langsung di lapangan.
Selain itu, pembuatan miniatur juga menjadi media pelestarian keterampilan tradisional, seperti seni pahat, ukir, dan tembikar. Banyak pengrajin yang mewarisi keahlian turun-temurun dalam membuat miniatur candi dan arca dengan teknik tradisional yang kaya nilai budaya.