Pelabuhan ini juga menjadi titik diplomasi penting. Pada tahun 1522, Kerajaan Sunda menjalin perjanjian dagang dengan Portugis, yang saat itu sudah memiliki pangkalan di Malaka.
Perjanjian tersebut menandai upaya kerajaan mempertahankan posisinya di tengah meningkatnya ancaman dari kerajaan Islam di Jawa, khususnya Kesultanan Demak.
Penaklukan oleh Fatahillah dan Awal Mula Jakarta
Tahun 1527 menjadi titik balik penting dalam sejarah Sunda Kelapa.
BACA JUGA:Sejarah Tugu Pahlawan Surabaya: Monumen Perjuangan Arek-Arek Suroboyo!
Pada tahun ini, pasukan dari Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah menyerbu dan berhasil merebut pelabuhan dari kekuasaan Portugis dan Kerajaan Sunda.
Penaklukan ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya Portugis menguasai jalur perdagangan di wilayah tersebut.
Setelah berhasil menguasai wilayah itu, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti "kemenangan yang sempurna".
Nama ini kelak menjadi cikal bakal dari nama Jakarta yang kita kenal saat ini. Penaklukan Sunda Kelapa juga menandai babak baru dalam penyebaran Islam di wilayah pesisir utara Jawa.
BACA JUGA:Sejarah Masjid Agung Keraton Yogyakarta: Simbol Keislaman dan Kebudayaan Jawa!
Era Kolonial dan Lahirnya Batavia
Pada abad ke-17, Belanda melalui VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) datang ke Jayakarta dan perlahan-lahan mengambil alih kekuasaan.
Pada tahun 1619, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta dan membangun kota baru bernama Batavia sebagai pusat kekuasaan dan perdagangan VOC di Hindia Belanda.
Pelabuhan Sunda Kelapa tetap memainkan peran penting sebagai pelabuhan utama Batavia.
Meskipun pelabuhan-pelabuhan baru mulai dibangun, aktivitas bongkar muat dan perdagangan di Sunda Kelapa tetap ramai.