Bentuk atap yang tinggi melambangkan status sosial tinggi, terutama pada masa lalu ketika rumah ini digunakan oleh keluarga kerajaan.
Atap yang menjulang juga melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, menandakan bahwa kehidupan harus selalu berorientasi pada nilai-nilai spiritual.
BACA JUGA:Jejak Sejarah Suku Mandar: Menelusuri Jejak Sejarah, Tradisi, dan Filosofi Hidup!
Rumah Panggung sebagai Adaptasi Alam
Rumah panggung mencerminkan keharmonisan manusia dengan alam, khususnya dalam menghadapi kondisi geografis Kalimantan yang sering mengalami banjir.
Ruangan yang Terbuka Mencerminkan Sikap Sosial.
- Konsep rumah yang minim sekat menunjukkan nilai kebersamaan dan gotong royong.
- Perkembangan Rumah Bubungan Tinggi di Era Modern
BACA JUGA:Penemuan Makam Dinasti Firaun Ke-5: Mumi Berusia 4.400 Tahun yang Masih Terawat
Namun, berbagai upaya terus dilakukan untuk melestarikan rumah adat ini.
1. Pelestarian Melalui Cagar Budaya
Pemerintah Kalimantan Selatan telah menetapkan beberapa rumah Bubungan Tinggi sebagai cagar budaya, sehingga bangunan ini dijaga dan dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah.
Salah satu contoh yang masih terawat dengan baik adalah Rumah Bubungan Tinggi di Desa Teluk Selong, Martapura.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Suku Tidung: Dari Kerajaan Maritim hingga Warisan Budaya di Kalimantan Utara!
2. Adaptasi dalam Arsitektur Modern
Saat ini, beberapa arsitek mulai mengadaptasi elemen Rumah Bubungan Tinggi dalam desain rumah modern.
3. Promosi Melalui Pariwisata
di mana pengunjung dapat melihat langsung Rumah Bubungan Tinggi dan memahami nilai-nilai di baliknya.