Misteri Lonceng Cakra Donya: Warisan Diplomatik Aceh-Tiongkok yang Terlupakan

Minggu 30-03-2025,21:57 WIB
Reporter : Elis
Editor : Almi

PAGARALAMPOS.COM - Lonceng Cakra Donya merupakan artefak bersejarah yang menjadi bukti hubungan erat antara Kesultanan Samudera Pasai dan Dinasti Ming dari Tiongkok.

Berusia lebih dari enam abad, lonceng ini kini tersimpan sebagai koleksi berharga di Museum Aceh, Banda Aceh.

Diperkirakan berasal dari awal abad ke-15, lonceng ini memiliki bentuk khas menyerupai stupa dengan ukuran sekitar 1,25 meter tinggi dan satu meter lebar.

Lonceng ini merupakan hadiah dari Kaisar Yongle kepada Kesultanan Samudera Pasai sebagai simbol kerja sama perdagangan dan persahabatan yang erat antara kedua wilayah. Pada masa itu, Pasai dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah yang berpengaruh besar di kawasan Asia

BACA JUGA:Sejarah Gua Pawon: Jejak Peradaban Manusia Purba di Jawa Barat!

BACA JUGA:Sejarah Gua Leang-Leang: Mengungkap Jejak Kehidupan Manusia Prasejarah di Sulawesi Selatan!

Seiring melemahnya Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-16, lonceng ini dipindahkan ke Kesultanan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayatsyah.

Pada era pemerintahan Sultan Iskandar Muda di abad ke-17, lonceng ini digunakan sebagai alat komunikasi darurat di kapal perang Aceh yang juga diberi nama Cakra Donya.

Selain fungsi militernya, lonceng ini berperan dalam kegiatan keagamaan, seperti penanda waktu azan dan berbuka puasa.

Lonceng Cakra Donya sempat jatuh ke tangan Portugis, namun akhirnya dikembalikan dan ditempatkan di Museum Aceh pada tahun 1951.

BACA JUGA:Sejarah Gua Tewet: Mengungkap Warisan Seni Cadas Prasejarah di Kalimantan Timur!

BACA JUGA:Meyikapi Kisah Sejarah Gua Lawa: Jejak Alam dan Budaya di Perut Bumi!

BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gua Kontilola: Keunikan Gua Penuh Stalaktit dan Kelelawar di Papua!

Keberadaannya menjadi saksi bisu kejayaan maritim Aceh serta hubungan diplomatik yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu.

Lebih dari sekadar peninggalan sejarah, Lonceng Cakra Donya mencerminkan ketahanan budaya Aceh dalam menghadapi perubahan zaman.

Kategori :