Zaytun Ibrani

Senin 22-05-2023,07:00 WIB
Reporter : Bodok
Editor : Bodok

KAMI tiba di kompleks Al-Zaytun sudah sangat gelap. Tapi penjaga gerbang langsung tahu siapa yang datang. Mobil Syekh Panji Gumilang ini mencolok sekali:  bendera merah putih selalu berkibar di antena depan.

"Merdeka!" sambut para penjaga gerbang itu.

"Merdeka!" jawab Syekh Panji.

Saya, yang duduk di sebelahnya, masih agak canggung untuk ikut memekikkan ''merdeka''. 

Saya pilih tersenyum saja ke para penjaga itu.

Tidak ada sambutan Assalamu'alaikum di situ. Pekikan ''Medeka!'' sudah menjadi salam sehari-hari. Termasuk antara santri dan guru. Kalau pun tidak memekikkan "Merdeka!“ mereka saling melakukan "hormat militer":  menempelkan telapak tangan terbuka di pinggir dahi. Dengan gerakan itu sudah sama artinya dengan mengucapkan "Merdeka!". 

Tanpa pula harus berjabat tangan.

Assalamu'alaikum masih sering terdengar. Jabat tangan masih sering juga terlihat. Tapi tidak sebanyak pekik "Merdeka!". 

Begitulah suasana di gerbang masuk Al-Zaytun. Itulah gerbang barunya. Disebut juga gerbang utara. 

Dulu, untuk masuk pesantren ini hanya bisa dari gerbang selatan. "Kelak akan ada dua gerbang lagi. Gerbang barat dan timur," ujar Syekh Panji Gumilang, sang pendiri Al-Zaytun.

Malam itu kami memang datang dari arah utara. Dari arah pantai Samudera Biru bagian utara Indramayu. Kalau harus masuk dari gerbang lama amatlah jauh. Lewat jalan memutar. Bisa selisih setengah jam sendiri. Luas pesantren ini memang 1.300 hektare. Yang jadi kompleks bangunan saja 200 hektare.

Gelap.

Kegelapan itu membuat saya tidak bisa menjelaskan suasana antara gerbang ini dan tempat saya menginap: Wisma Tamu Al-Zaytun. Malam itu saya seperti melewati hutan jati yang luas. Jalan di tengah "hutan" itu lebar sekali. Aspal. Kanan-kirinya ada jalan yang lebih kecil. 

Jalan lebar di tengah itu untuk mobil dua arah. Jalan di kiri untuk sepeda dua arah. Jalan di kanan untuk motor dua arah.

Tertata.

Kategori :