Lima Fly Over di Muara Enim Dikejar, Pembebasan Lahan Jadi Perhatian
Foto : Gubernur Sumsel Herman Deru saat memimpin rapat evaluasi pembangunan lima fly over di Griya Agung, Palembang, Jumat (9/10/2026).--ist
PAGARALAMPOS.COM – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengebut pembangunan lima fly over di Kabupaten Muara Enim untuk mengatasi kemacetan di perlintasan kereta api. Gubernur Sumsel Herman Deru meminta seluruh pihak mempercepat penyelesaian persoalan administrasi dan pembebasan lahan agar proyek berjalan sesuai target.
Hal itu ditegaskan Herman Deru saat memimpin rapat evaluasi pembangunan lima fly over di Griya Agung, Palembang, Jumat (9/10/2026). Ia menekankan, setiap proyek harus mengikuti jadwal yang telah ditetapkan sehingga tidak terkendala persoalan teknis maupun administratif.
“Yang terpenting adalah semangat untuk mempercepat. Semua pihak harus bekerja sama sampai ini selesai. Persoalan pembangunan ini berbeda-beda, tetapi kita harus taat dengan jadwal,” tegasnya.
Menurut Herman Deru, pembangunan fly over menjadi salah satu solusi untuk mengurangi hambatan transportasi di Kabupaten Muara Enim, terutama akibat perlintasan sebidang kereta api yang kerap bersinggungan dengan tingginya aktivitas angkutan batu bara.
BACA JUGA:Percepat Pembangunan Pemprov Sumsel Optimis Empat Fly Over Akan Dibangun dan Tuntas Tahun 2027
BACA JUGA:147.780 Kendaraan Padati JTTS pada Arus Balik Nataru
Ia mengatakan, penataan angkutan batu bara telah menjadi perhatian sejak awal masa kepemimpinannya. Pemprov Sumsel menerbitkan Peraturan Gubernur Sumsel Nomor 74 Tahun 2018 sebagai bagian dari upaya mendorong pengangkutan batu bara menggunakan jalan khusus dan jalur kereta api.
Kebijakan tersebut, lanjutnya, sempat menghadapi penolakan hingga gugatan hukum. Namun, pemerintah tetap mendorong penataan angkutan batu bara agar aktivitas distribusi hasil tambang tidak terus menghambat mobilitas masyarakat.
“Begitu saya dilantik, saya berdiskusi dengan Prof. Erika. Satu minggu menjabat, lahir Pergub itu. Memang kemudian dikomplain, didemo, bahkan digugat sampai ke pengadilan dan Mahkamah Konstitusi. Alhamdulillah kita menang, dengan solusi batu bara diangkut melalui jalan khusus dan kereta api,” ujarnya.
Herman Deru mengingatkan, percepatan pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan pekerjaan fisik. Penyelesaian administrasi, koordinasi lintas instansi, serta pengadaan tanah harus berjalan beriringan agar tidak menghambat pelaksanaan proyek.
“Kalau administrasi satu tidak selesai, masalah ini tidak akan jalan. Semua pihak harus bekerja sama sampai ini selesai,” katanya.
Dalam rapat tersebut, Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Sumsel Basyaruddin memaparkan perkembangan masing-masing proyek. Fly over JPL 123 Sudirman di Kabupaten Muara Enim tercatat telah mencapai progres pembangunan sekitar 21 persen dan masih sesuai rencana.
Sementara itu, pembangunan fly over JPL 99 Belimbing-Pendopo membutuhkan anggaran sekitar Rp197,93 miliar. Proyek ini memerlukan percepatan koordinasi antarpihak, khususnya terkait pengadaan tanah agar tahapan pembangunan tidak meleset dari target.
Untuk JPL 111 Ujan Mas, kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp124,9 miliar dengan luas lahan yang diperlukan 16.653 meter persegi. Adapun JPL 104 Gunung Megang membutuhkan anggaran sekitar Rp128,75 miliar, dengan target penyelesaian lahan pada 1 Februari 2027.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


