Pemkot PGA

Menelusuri Sejarah Prawirotaman: Kampung Turis yang Tumbuh dari Akar Sejarah!

Menelusuri Sejarah Prawirotaman: Kampung Turis yang Tumbuh dari Akar Sejarah!

Menelusuri Sejarah Prawirotaman: Kampung Turis yang Tumbuh dari Akar Sejarah!-net: foto-

PAGARALAMPOS.COM - Prawirotaman, sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai “kampung turis” di Kota Yogyakarta, menyimpan jejak sejarah yang panjang dan menarik.

Berlokasi di Kecamatan Mergangsan, sekitar dua kilometer dari pusat kota, kawasan ini dulunya adalah permukiman bangsawan Jawa dan berkembang menjadi pusat budaya dan pariwisata yang terkenal hingga ke mancanegara.

Di balik hiruk-pikuk wisatawan dan deretan kafe modern, Prawirotaman menyimpan kisah yang mencerminkan perjalanan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Yogyakarta.

Dari Tanah Kadipaten ke Wilayah Pangeran

BACA JUGA: Mengungkap Tabir Gelap Pantai Payangan, Sejarah Terlupakan dan Ritual Tersembunyi

Nama “Prawirotaman” berasal dari nama keluarga bangsawan Keraton Yogyakarta, yakni keluarga Prawirotomo.

Pada abad ke-19, wilayah ini merupakan tanah milik Pangeran Prawirotomo, seorang bangsawan keraton yang diberi tanah perdikan sebagai bentuk penghargaan.

Tanah perdikan merupakan tanah bebas pajak yang dikelola oleh keluarga bangsawan dan digunakan untuk keperluan sosial atau pertanian.

Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini sempat digunakan sebagai tempat tinggal para keturunan Prawirotomo dan berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat adat.

BACA JUGA:Kerajaan Islam Tertua di Indonesia: Antara Perlak dan Samudera Pasai, Mana yang Benar?

Arsitektur rumah-rumah tua yang masih bisa dijumpai hingga kini menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Bahkan, beberapa rumah besar bergaya Indis masih berdiri kokoh dan kini dialihfungsikan sebagai penginapan atau galeri seni.

Transformasi Pasca-Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, status sosial masyarakat Prawirotaman perlahan berubah. Banyak keturunan bangsawan yang tidak lagi tinggal di wilayah ini dan lahan-lahan mulai dimanfaatkan untuk kepentingan komersial.

Namun, perubahan besar terjadi pada era 1970-an saat kawasan ini mulai dilirik oleh wisatawan asing sebagai tempat tinggal alternatif selama berada di Yogyakarta.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait