Sejarah Bukit Tinggi: Dari Benteng Fort de Kock hingga Pusat Peradaban Minangkabau!
Sejarah Bukit Tinggi: Dari Benteng Fort de Kock hingga Pusat Peradaban Minangkabau!-net: foto-
PAGARALAMPOS.COM - Bukit Tinggi, sebuah kota yang terletak di Provinsi Sumatera Barat, bukan hanya terkenal karena keindahan alam dan udaranya yang sejuk, tetapi juga karena nilai historis dan budayanya yang kental.
Terletak di dataran tinggi sekitar 930 meter di atas permukaan laut, kota ini dikelilingi oleh dua gunung besar Gunung Singgalang dan Gunung Marapi yang menjadikannya lokasi strategis sekaligus saksi bisu berbagai peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Awal Mula dan Nama Bukit Tinggi
Sebelum dikenal sebagai Bukit Tinggi, kota ini memiliki nama asli Fort de Kock, yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-19.
BACA JUGA:Tak Hanya Menakjubkan! Inilah Perjalanan Sejarah Candi Sewu dan Upaya Pelestariannya
Nama tersebut diambil dari nama seorang perwira militer Belanda, Hendrik Merkus de Kock, yang membangun benteng pertahanan di wilayah itu untuk menghadapi perlawanan rakyat Minangkabau dalam Perang Padri (1821–1837).
Benteng Fort de Kock sendiri masih berdiri hingga kini dan menjadi salah satu objek wisata sejarah yang penting di Bukit Tinggi. Dari benteng inilah, Belanda mengendalikan kawasan sekitar selama masa penjajahan.
Seiring waktu, nama Fort de Kock mulai tergantikan oleh sebutan Bukit Tinggi, yang merujuk pada letak geografis kota ini yang berada di ketinggian.
Bukit Tinggi dalam Perang Padri
BACA JUGA:Wow Tak Disangka, Sejarah dan Keistimewaan Candi Arjuna di Dieng
Salah satu bab penting dalam sejarah Bukit Tinggi adalah keterlibatannya dalam Perang Padri.
Perang ini bermula dari konflik internal antara kaum adat dan kaum Padri, yaitu kelompok reformis Islam yang ingin menerapkan syariat Islam secara ketat di Minangkabau.
Konflik ini kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk masuk dan menanamkan pengaruh kolonialnya. Bukit Tinggi menjadi pusat konsolidasi kekuatan Belanda dalam menghadapi kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.
Dari benteng Fort de Kock, Belanda menjalankan strategi militernya dan secara perlahan berhasil menguasai wilayah Minangkabau.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
