Sejarah Lonceng Vihara Avalokitesvara: Warisan Spiritualitas dan Simbol Keberagaman di Tanjung Balai!
Sejarah Lonceng Vihara Avalokitesvara: Warisan Spiritualitas dan Simbol Keberagaman di Tanjung Balai!-net: foto-
PAGARALAMPOS.COM - Vihara Avalokitesvara yang terletak di Kota Tanjung Balai, Sumatra Utara, adalah salah satu tempat suci umat Buddha yang menyimpan jejak sejarah panjang dan nilai budaya yang tinggi.
Tidak hanya menjadi lokasi ibadah, vihara ini juga dikenal sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di daerah pesisir timur Sumatra.
Salah satu artefak yang paling mencolok dan sarat makna dari vihara ini adalah lonceng perunggu kuno yang masih tergantung megah di kawasan vihara hingga saat ini.
Keberadaannya menjadi saksi bisu perkembangan keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat sekitar selama lebih dari satu abad.
BACA JUGA:Sejarah Pantai Ujung Genteng: Perpaduan Keindahan Alam dan Jejak Sejarah di Selatan Sukabumi!
Asal-Usul dan Nilai Sejarah
Diperkirakan dibuat pada abad ke-19, lonceng tersebut berasal dari komunitas Tionghoa yang kala itu menetap di wilayah pesisir timur Sumatra.
Benda ini tidak hanya berfungsi sebagai alat ritual, melainkan juga merupakan simbol doa dan pengharapan.
Saat komunitas Tionghoa mendirikan vihara di kawasan tersebut, lonceng ini dihadiahkan sebagai pelengkap spiritual dan ornamen utama bangunan suci mereka. Hingga kini, keberadaannya masih terjaga dengan baik.
BACA JUGA:Sejarah Pantai Ujung Genteng: Perpaduan Keindahan Alam dan Jejak Sejarah di Selatan Sukabumi!
Desain dan Makna Filosofis
Lonceng yang terbuat dari perunggu ini memiliki tinggi lebih dari satu meter dengan bobot yang cukup besar. Di permukaannya terukir huruf-huruf Tionghoa kuno, yang terdiri dari mantra serta doa-doa dalam tradisi Buddha.
Ornamen naga menghiasi sekelilingnya, melambangkan keberanian, kekuatan, dan perlindungan dalam budaya Tiongkok.
Dalam praktik spiritual umat Buddha, lonceng seperti ini memiliki fungsi yang mendalam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
