Pemkot PGA

Sejarah Gunung Abang: Jejak Mistis dan Sakral di Timur Danau Batur

Sejarah Gunung Abang: Jejak Mistis dan Sakral di Timur Danau Batur

Sejarah Gunung Abang: Jejak Mistis dan Sakral di Timur Danau Batur-net:foto-

PAGARALAMPOS.COM - Gunung Abang, yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali, merupakan salah satu destinasi alam yang menyimpan sejarah panjang serta nilai spiritual yang kuat bagi masyarakat Hindu Bali.

Dengan ketinggian sekitar 2.152 meter di atas permukaan laut, gunung ini bukan hanya menjadi tujuan favorit para pendaki, tetapi juga dipercaya sebagai tempat suci yang memiliki hubungan erat dengan kisah-kisah kuno Bali.

Berada di sisi timur Danau Batur, Gunung Abang sering kali terabaikan karena popularitas Gunung Batur dan Gunung Agung, padahal gunung ini memegang peranan penting dalam sejarah dan kepercayaan masyarakat lokal.

Jejak Sejarah Masa Lalu

BACA JUGA:Sisi Gelap Sejarah Indonesia, Pengakuan Pemerintah atas Tragedi 1965

Nama “Abang” sendiri memiliki arti “merah” dalam bahasa Bali, yang menurut beberapa ahli budaya bisa merujuk pada unsur api dan arah timur dalam konsep kosmologi Hindu Bali.

Dalam tradisi lokal, Gunung Abang adalah salah satu penjaga alam Bali yang sakral, bersama dengan gunung-gunung lainnya.

Gunung ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur dan makhluk-makhluk gaib yang menjaga keseimbangan alam.

Berdasarkan catatan sejarah dan cerita rakyat, Gunung Abang dahulu merupakan bagian dari kaldera besar yang terbentuk akibat letusan gunung berapi purba.

BACA JUGA:Atlantis Indonesia! Mengungkap Peradaban Kuno yang Terselimuti Laut

Kaldera tersebut kini menjadi Danau Batur dan Gunung Batur. Letusan dahsyat yang terjadi ribuan tahun lalu menciptakan lanskap dramatis dan subur di sekitarnya.

Setelah letusan itu, puncak-puncak yang tersisa — salah satunya Gunung Abang — dianggap sebagai sisa dari dinding kaldera purba.

Tempat Pertapaan dan Spiritual

Gunung Abang dikenal sebagai tempat pertapaan para resi dan pendeta pada zaman dahulu.

Banyak titik di jalur pendakian yang dipercaya sebagai lokasi suci, di mana masyarakat Hindu melakukan upacara atau sembahyang.

BACA JUGA:Misteri yang Terukir, Ketika Batu Bicara dengan Bahasa yang Kita Tak Mengerti!

Di sepanjang jalur pendakian menuju puncak, terdapat beberapa pura kecil seperti Pura Dalem Pingit, yang menjadi tempat persembahyangan para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan.

Pura-pura ini dibangun untuk menghormati leluhur dan memohon keselamatan selama pendakian. Tidak sedikit yang percaya bahwa Gunung Abang memiliki energi spiritual yang kuat. Bahkan, beberapa orang mengaku mengalami pengalaman mistis saat bermalam di sana.

Misalnya, suara gamelan terdengar dari kejauhan tanpa ada tanda-tanda aktivitas manusia, atau kabut tebal yang datang tiba-tiba dan menciptakan suasana magis.

Cerita-cerita semacam ini bukan hal baru dan sering dianggap sebagai bentuk “komunikasi” dari alam atau makhluk halus penjaga gunung.

BACA JUGA:Siapakah Sebenarnya Suku Bajo? Jejak Lautan yang Belum Terpecahkan

Peran dalam Kepercayaan Hindu Bali

Dalam sistem kepercayaan Hindu Bali, keberadaan gunung sangat penting karena dianggap sebagai tempat suci yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia para dewa.

Gunung Abang sendiri dianggap sebagai bagian dari konsep "Sad Kahyangan", yaitu enam pura utama penjaga arah mata angin di Bali.

Walaupun Gunung Abang tidak memiliki pura utama besar seperti Pura Besakih di Gunung Agung, keberadaan pura-pura kecil di lerengnya tetap disakralkan.

Selain itu, masyarakat lokal percaya bahwa Gunung Abang merupakan penjaga arah timur.

BACA JUGA:Sejarah Misteri Ranu Kumbolo: Pesona dan Cerita di Balik Danau Mistis Semeru!

Dalam sistem kosmologi Bali, timur adalah arah dari matahari terbit dan melambangkan awal kehidupan dan pencerahan.

Oleh karena itu, melakukan persembahyangan atau bahkan sekadar mendaki Gunung Abang dipercaya dapat membawa energi positif dan pembersihan diri secara spiritual.

Gunung Abang di Era Modern

Meski memiliki nilai spiritual tinggi, Gunung Abang juga semakin dikenal sebagai destinasi wisata alam yang menantang.

Jalur pendakiannya cenderung lebih sepi dibandingkan Gunung Batur, namun memberikan pengalaman yang tidak kalah menakjubkan.

BACA JUGA:Jelajahi Sejarah dan Dampak Penjajahan Jepang di Indonesia Selama Perang Dunia II!

Dari puncak Gunung Abang, pendaki bisa menyaksikan panorama Danau Batur yang tenang, Gunung Batur yang gagah, serta Gunung Agung di kejauhan.

Namun, seiring meningkatnya minat wisatawan, tantangan baru pun muncul. Beberapa masyarakat adat mengingatkan pentingnya menjaga kesopanan dan etika saat berada di area gunung, mengingat statusnya sebagai tempat suci.

Pendakian pun sering kali disertai dengan upacara kecil atau persembahan sebagai bentuk penghormatan terhadap roh-roh yang diyakini mendiami gunung tersebut.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait