Ada 800 Ribuan UMKM di Sumsel, Tapi Baru 30 Persen Rambah Bisnis Online

Ada 800 Ribuan UMKM di Sumsel, Tapi Baru 30 Persen Rambah Bisnis Online

FOTO : gusti/Pagaralam Pos TOKO ONLINE : Peserta dan narasumber berfoto bersama disela pelatihan manajemen usaha yang ditutup Plt Kadisperkimtan Pagaralam, Jumat (12/8). --

PALEMBANG, PAGARALAMPOS –  Kabid UKM Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumsel, Mega Nugraha mengatakan, sebenarnya UMKM bisa jualan produk melalui kanal (platform) online, seperti marketplace, media sosial, online food deliver.
Sumsel masih harus berjuang keras memacu digitalisasi. Sebab, pemanfaat platform digital dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih cendering sendiri.
“Tanpa harus buka atau sewa toko offline dengan cost yang minim, menjangkau konsumen lebih luas, serta melipatgandakan omset hingga 2-3 kali lipat,” katanya belum lama ini.

Cuma tantangannya, ketersediaan infrastruktur digital belum merata sampai pelosok negeri misalnya coverage jaringan internet belum semua wilayah 4G.
 
“Dari 800 ribu UMKM Sumsel, baru 30 persen yang merambah online, lainnya masih offline,” katanya.
BACA JUGA:Begini Cerita Kepala SD Muhammadiyah 1 Surakarta Menerapkan PSP
“Sehingga kami terus mengupayakan semua UMKM go online karena mereka penopang perekonomian yang mendominasi aktivitas lebih dari 98 persen,” ujarnya.

Digitalisasi akan membantu UMKM cepat bertumbuh, sehingga pada akhirnya ikut mengungkit perekonomian daerah.

Hal ini diakui pula Sekretaris Asosiasi Pengusaha Pempek (Asppek) Palembang, Kartini.  Menurut dia, ada sebanyak 85 persen pelaku usaha sudah menjual pempek dan makanan khas lainnya melalui kanal online.

“Bahkan banyak pula UMKM yang tidak punya warung sama sekali atau hanya jualan dari rumah, full menggantungkan dari transaksi digital,” kata Kartini.
BACA JUGA:Kuat Ma'ruf Dituntut 8 Tahun Penjara, Ini 3 Peran Sopir Putri Candrawathi Itu dalam Pembunuhan Brigadir Joshua
Berkat menjual di medsos atau marketplace pula, UMKM bisa kirim pempek sampai luar kota atau mancanegara mencapai 7 ton per hari. “Itu separuhnya dari produksi pempek Palembang rata-rata 14 ton sehari,” sebutnya.

Sementara itu, Humas Asppek Palembang, Jimmy menambahkan sejak pandemi Covid-19, UMKM pempek banyak bermigrasi ke online.

“Kami mampu survive dan mendulang omset dari jualan online, ketika toko offline tidak buka saat pandemi atau tidak ada konsumen bertandang,” katanya.

Ini berimbas meningkatnya pendapatan usaha pempek. “Jadi, digitalisasi mendorong kami dari Asppek dapat meraih omset lebih tinggi hingga kini,” pungkas Jimmy. ()
 
Berita ini sudah terbit di Koran Harian Sumek dengan judul Ada 800 Ribuan UMKM di Sumsel, Tapi Baru 30 Persen Rambah Bisnis Online

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: