Kabut Rindu di SMAN 4 Pagaralam

Minggu 08-11-2026,03:22 WIB
Reporter : Rian
Editor : Almi

‎PAGARALAMPOS.COM - Pagi di SMA Negeri 4 Pagaralam selalu datang bersama selimut kabut tipis yang turun dari lereng Gunung Dempo.

Udara dingin yang menggigit kulit tidak pernah menyurutkan langkah para siswa menaiki undakan gerbang sekolah yang asri.

Di antara keramaian koridor, ada dua nama yang sering menjadi bahan pembicaraan lembut di antara angin pegunungan: Abdul dan Almira.

BACA JUGA:Cuma Rp900 Ribuan! Smartphone Murah Ini Sanggup Libas Mobile Legends Tanpa Lag

Abdul adalah siswa kelas XII yang dikenal pendiam, aktif di organisasi sekolah, dan memiliki senyum setenang pagi di perkebunan teh.

Sementara Almira, adik kelas mereka di kelas XI, adalah gadis berjiwa seni yang hobi menulis puisi dan sering menghabiskan waktu istirahatnya di sudut perpustakaan sekolah dengan pemandangan langsung ke bukit barisan.

Kisah mereka tidak bermula dari drama yang megah. Semuanya berkat sebuah majalah dinding (mading) sekolah.

Suatu hari menjelang pameran seni akhir semester, Abdul ditunjuk sebagai ketua panitia, sementara Almira adalah penyumbang naskah puisi terbaik.

BACA JUGA:Menolak Lupa di Tengah Bungkamnya Negara: Relevansi Film 'Laut Bercerita' dan Utang Keadilan Pemerintah

Di ruang OSIS yang beraroma kertas tua dan kayu, keduanya sering lembur bersama untuk merapikan mading.

"Tulisan tanganmu rapi, Mir. Tapi, kalau kalimat penutupnya diganti sedikit, rasanya makna rindunya bakal lebih ngena ke pembaca," ucap Abdul suatu sore, sambil menunjuk lembar puisi Almira.

Almira tersenyum, pipinya sedikit merona—bukan karena dinginnya cuaca Pagaralam, melainkan karena debar di dadanya. "Silakan, Kak. Aku percaya pilihan kata Kak Abdul."

Dari perbincangan-perbincangan kecil di bawah temaram lampu ruang OSIS itu, benih-benih cinta tumbuh secara alami.

BACA JUGA:VIRAL! Smartphone ini Bisa Buat Wajah Kamu Cantik Seperti Artis Korea Secara GRATIS

Abdul kagum pada ketulusan Almira dalam berkarya, dan Almira jatuh hati pada keteduhan sikap Abdul yang selalu melindunginya layaknya Gunung Dempo yang melindungi kota dari angin kencang.

Hari-hari sekolah mereka dipenuhi momen sederhana namun membekas.

Kadang kala, Abdul menunggu Almira di dekat lapangan basket seusai jam ekstrakurikuler, membelikannya secangkir teh hangat dari kantin sekolah untuk mengusir dingin.

Di balik bayang-bayang pohon pinus sekolah, mereka sering berbagi cerita tentang mimpi masa depan, cita-cita kuliah, dan harapan sederhana untuk terus bersama.

BACA JUGA:DAPATKAN GRATIS! inilah Keunggulan andalan dari Poco X6 5G Cukup 4 Juta Saja!

Namun, masa SMA harus berujung pada perpisahan sementara. Tahun terakhir Abdul pun tiba. Hari kelulusannya diwarnai rasa haru.

Di bawah naungan langit Pagaralam yang cerah, di halaman SMAN 4 Pagaralam tempat semuanya bermula, Abdul menyerahkan sebuah buku catatan kecil kepada Almira.

Di halaman pertama buku itu, Abdul menuliskan sebuah kalimat:“Kabut Dempo mungkin akan datang dan pergi, tapi rasa ini tetap tinggal. Tunggu aku kembali, Almira.”

Almira menahan air matanya, tersenyum sambil memeluk buku itu erat-erat.

BACA JUGA:ASUS ROG Zephyrus G16 Hadir dengan GPU GeForce RTX 50 Series, Ini Teknologi Grafis dan Sistem Pendinginnya

Ia tahu, jarak dan waktu kelak mungkin akan memisahkan langkah mereka, tetapi akar cinta yang tertanam di tanah SMAN 4 Pagaralam akan selalu menjadi tempat terindah bagi cerita mereka untuk pulang.

Kategori :