PAGARALAM POS.COM - Gunung Papandayan merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia yang berada di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Gunung ini termasuk gunung api bertipe strato, yaitu gunung berbentuk kerucut yang terbentuk dari lapisan lava dan material vulkanik hasil letusan selama ribuan tahun.
Dalam klasifikasi gunung api di Indonesia, Papandayan masuk kategori gunung api tipe A karena tercatat pernah mengalami erupsi setelah tahun 1600.
Aktivitas vulkaniknya yang berlangsung selama berabad-abad telah membentuk lanskap unik yang kini menjadi daya tarik wisata sekaligus objek penelitian geologi.
BACA JUGA:Sejarah Taman Nasional Gunung Leuser, Surga Keanekaragaman Hayati yang Mendunia
Letusan Terbesar pada Tahun 1772
Salah satu peristiwa paling dahsyat dalam sejarah Gunung Papandayan terjadi pada malam 11–12 Agustus 1772.
Letusan tersebut menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh dan menghasilkan aliran material vulkanik yang menghancurkan puluhan permukiman di sekitarnya.
Catatan sejarah menyebutkan sekitar 40 desa terdampak dan hampir 3.000 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Peristiwa ini juga mengakibatkan perubahan besar pada morfologi Gunung Papandayan sehingga membentuk bentang alam yang dikenal hingga sekarang.
Meski kini terkenal sebagai salah satu gunung favorit bagi pendaki pemula karena jalurnya relatif landai,
Papandayan menyimpan kisah panjang tentang kekuatan alam yang pernah mengubah kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Riwayat Letusan Gunung Papandayan
Berikut rangkaian aktivitas vulkanik Gunung Papandayan yang tercatat dalam sejarah.
- 1772 Terjadi letusan besar dari kawah utama pada 11–12 Agustus. Awan panas dan longsoran material vulkanik menghancurkan sekitar 40 kampung serta menyebabkan ribuan korban jiwa.
- 1882 Pada 28 Mei terdengar suara gemuruh dari dalam tanah di wilayah Campaka Warna. Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan peningkatan aktivitas Gunung Papandayan, meskipun tidak berkembang menjadi erupsi besar.
- 1923 Erupsi kembali terjadi pada 11 Maret dengan lontaran lumpur dan batu hingga sekitar 150 meter dari kawah. Aktivitas ini didahului gempa yang sempat dirasakan warga di Cisurupan.
- 1924 Aktivitas vulkanik meningkat dengan kenaikan suhu di Kawah Mas. Letusan lumpur terjadi di Kawah Mas dan Kawah Baru. Menjelang akhir tahun, terdengar dentuman keras disertai lontaran batu serta lumpur yang menyebabkan kawasan hutan di sekitar kawah mengalami kerusakan.
- 1925 Pada 21 Februari, Kawah Nangklak mengalami letusan lumpur yang diikuti semburan gas dan hujan lumpur di sekitar kawah.
- 1926 Erupsi kecil kembali terjadi di Kawah Mas dengan material berupa lumpur bercampur belerang. Sementara itu, Kawah Baru memuntahkan abu belerang hingga ratusan meter sebelum diakhiri letusan lumpur.
- 1927 Aktivitas fumarola, solfatara, serta semburan lumpur panas meningkat sejak pertengahan Februari. Hingga kini, fenomena tersebut masih menjadi salah satu ciri khas kawasan kawah Papandayan.
- 1942 Pada pertengahan Agustus muncul lubang erupsi baru yang menandai perubahan aktivitas vulkanik di kawasan gunung.
- 1993 Gunung Papandayan kembali menunjukkan aktivitas melalui letusan lumpur di Kawah Baru pada 17 Juli.
- 1998 Aktivitas seismik meningkat cukup signifikan. Selain bertambahnya jumlah gempa vulkanik, terjadi pula semburan lumpur dan gas dari fumarola di Kawah Mas dengan tinggi mencapai beberapa meter.